Kamis, Januari 21, 2016

ANALISIS GENDER DALAM PENDIDIKAN JASMANI KESEHATAN DAN REKREASI SEKOLAH DI PROVINSI ACEH

ANALISIS GENDER DALAM PENDIDIKAN  JASMANI  KESEHATAN DAN REKREASI SEKOLAH DI PROVINSI ACEH
OLEH :
MUHARIL.S.Pd


A. Pendahuluan
Sekolah berperan penting untuk merubah pola pikir peserta didik termasuk  dalamnya perilaku-penlaku yang d1 anggap bras gender, oleh karena tu perlu mewujudkan satuan pendidikan berwawasan gender dalam pembangunan pendidikan memegang peran dan fungsi yang sangat strategis.
Pembelajaran anak terkait kesetaraan gender harus diberikan sejak dim. Kalau tidak, mereka kemungkinan akan melakukan diskrimhasi. Orangtua dan gum bisa berkontiibusi dalam hal ini. utama dalam mengajarkan, membimbing, dan memberikan pengetahuan soal gender pada anak. Namun, tak kalah pentmg adalah peran seorang guru yang sangat strategis untuk menanamkan sikap kesetaraan gender. Hal itu agar ketika mereka beranjak dewasa bisa responsu terhadap diskriminasi gender. Ketika sekali saja guru d sekolan menyentuh persoalan gender, anak-anak akan terus mengingatnya, hingga usia dewasa.
Sekolah merupakan suatu wadah pencidikan formal yang dikondisikan bagi anak didik yang bertujuan tidak hanya untuk pencapaian ilmu, namun wadah formal ini harapkan juga mampu menyi apkan anak didik dengan moral, etika yang diperlukan guna memasuki tahapan kehidupan selanjutnya secara berharkat dan bermartabat. Sekolah Dasar atau pendidikan sejenis seperti Madrasah Ibtidaiyah, dianggap merupakan jenjang pendidikan yang sangat 'strategi: ' dan 'penentu utama' bagi kerangka pembentukan basis kerangka berpikir domain kemanusiaan peserta didik, dalam membentuk sikap, pengetahuan, dan ketrampilan dasar.


Kerangka berpikir domain kemanusiaan peserta didik inilah kiianya yang kelak akan menentukan kualitas keh'dupannya dimasyarakat, dengan Framework domain kemanusiaan itu pula akan terbentuk streotip peserta didik dalam memandang dirinya dalam hubungannya dengan manusia lain, apakah menempatkan pada posisi yang sama dan sederajat untuk saling beker'a sama, ataukah akan menempatkan pada posisi yang tidak sama, untuk saling bermusuhan, melecehkan atau melakukan undakan diski.minas' (Fatimah, 2004)

Dengan masih banyaknya ditemukan bahan ajar (buku), lingkungan dan Guru yang belum responsive gender, akan berdampak pada pembentukan sikap dan perilaku anak yang akhirnya akan memperbesar ketinpangan gender. Selain -tu belum terlihat adanya ni'ai-nilai keadilan dan kesetaraan gender yang memadai dalam kegiatan-kegiatan yang mampu menunjrng kuali+as pembelajaran dan menjadikannya sebagai suatu kebutuhan.

Oleh karena :ai, penel dan tentang Kajian Kesetaraan Gender Dalam Pendidikan jasmani disekolah menjadi sangat perlu dilakukan. Dengan demikian pelaksanaan pendidikan berdasarkan persamaan jender dapat terwujud, sehingga tidak terjadi lap; diskriminasi terhadap perempuan khususnya dalam pendidikan yang merupakan faktor yang sangat penting dalam memberdayakan kaum perempuan. Hal ini sesuai dengan konferensi perempuan sedunia tahun 1995 yang menyerukan penghapusan diskriminasi dalam pendidikan dan menciptakan pend'dikan yang sensitif jender.

Secara rinci permasalahan yang ingin dikaji adalab sebaga. berikut:
1)   Apakah lingkungan sekolah dan disaat pembelajaran jasmani sudah berperspektif gender ?
 2). Apakah kegiatan- kegiatan di Sekolah dan pendidikan jasmani sudah berperspekt;f gender?.
 3). Apakah bahan dan sumber-sumber belajar pendidikan jasmani di Sekolah sudah berperspektif gender ?.
4). Apakah guru-guru  pendidikan jasmani di Sekolah sudah berperspektif gender ?
5). Bagaimana desain lingkungan pendid'kan, kelas, aktivitas dan SDM dalam pendidikan jasmani agar berpespektif gender.?

Membahas permasalahan gender berarti membahas permasalahan perempuan dan juga laki-laki dalam kehidupan masyarakat. Dalam pembahasan mengenai gender, termasuk kesetaraan dan keaailan gender dikenal adanya 2 aliran atau teori yaitu teori nurture dan teori nature. Namun demikian dapat pula dikembangkan satu konsep teori yang diilhami dari dua konsep teori tersebut yang merupakan kompromistis atau keseimbangan yang disebut dengan teori equi,;brium.
Pembedaan peran gender ini sangat membantu untuk memiivirkan kembali tentang pembagian peran yang selama ini dianggap telah melekat pada manusia perempuan dan laki laki. Dengan mengenal: perbedaan gender sebagai sesuatu yang tidak tetap, adak permanen sehingga memudahkan untuk membangun gambaran tentang realitas relasi perempuan dan laki4aki yang ainamis yang lebih tepat dan cocok dengan kenyataan yang ada dalam masyarakat. Dengan memisahkan perbedaan jenifi kelamin biologis yang bersifat permanen dan stats itu tidak dapat digunakan sebagai alat analisis yang berguna untuk memahami relitas kehidupan dan dinamika perubahan relasi laki-laki dan perempuan.
Perbedaan konsep gender secara social telah melahirkan perbedaan peran perempuan dan laki-laki dalam masyarakat. Secara umum adanya gender telah melahirkan perbedaan peran, tanggung jawab, fungsi dan bahkan ruang tempat dimana manusia beraktivitas. Dengan demikian gender adalah perbedaan peran laki-laki dan perempuan yang dibentuk, dibuat dan dikontruksi oleh masyarakat dan dapat berubah sesuai dengan perkembangan zaman.
Perbedaan konsep gender secara sosial telah melahirkan perbedaan peran perempuan dan laki- laki dalam masyarakat. Secara umum adanya gender telah melahirkan perbedaan peran, tanggung jawab, fungji dan bahkan ruang tempat dimana manusia beraktifitas. Sedemikian rupanya perbedaan gender itu melekat pada cara pandang masyarakat, sehingga masyaraKat senng lupa seakan-akan hal "tu merupakan sesuatu yang permanen dan abadi sebagaimana permanen dan abadinya ciri biologis yang dimiliki oleh perempuan dan laki-laki.
Statement yang mengemuka karenakan telah terjadi banyak ketimpangan gender di masyarakat yang diasumsikan muncul karena terdapat bias gender dalam pendi< kan Diantara aspek yang menui ukkan adanya bias gender dalam pendidikan dapat dilihat pada perumusan kurikulum dan juga rendahnya kualitas pendidikan. Implementasi kurikulum pendidikan sendiri terdapat dalam buku ajar yang digunakan di sekolah-sekolah. Reantas yang ada, dalam kurikulum pendidikan (agama ataupun umum) masih terdapat banyak hal yang menonjolkan laki-lak berada pada sektor publik sementara perempuan berada pada sektor domestik. Dengan kata lain, kurikulum yang memuat bahan piar bag. siswa belum bernuansa neutral gender baik dalam gambar ataupun ilustrasi kalimat yang dipakai dalam penjelasan materi.
Rendahnya kualitas pendidikan diakibatkan oleh adanya disknminasi gender dalam dunia pendidikan. Ada empat aspek yang disorot oleh Departemen Penc .dikan Nasional mengena: permasalahan gender dalam dunia penaidikan yaitu akses, parti ipasi, proses pembelaran dan penguasaan. Yang dimaksud dengan aspek akses adalah fasi;:tas pendidikan yang sulit dbapai. Di lingkungan masyarakat yang masili tradisional, umumnya orang tua segan mengirimkan anak perempuannya ke sekolah yang jauh karena mengkhawatirkan kesejahteraan mereka. Oleh sebab itu banyak anak perempuan yang 'terpaksa' tinggal di rumah. Belum lag' beban tugas rumah tangga yang banyak dibebankan pada anak perempuan membuat mereka sulit meninggalkan rumah. Akumulasi dari faktor- faktor ini membuat anak perempuan banyak yang cepat meninggalkan bangku sekolah.

Jika sekolah memiiih jalan untuk tidak sekadar menjadi pengawet atau penyangga nilai-nilai, tetapi penyeru pikiran-pikiian yang produktif dengan berkolaborasi dengan kebutuhan zaman, maka menjar[1]' salah satu ugas sekolah untuk tidak membiarkan berlangsungnya ketidakadilan gender yang selama ini terbungkus rapi dalam kesadaran-kesadaran palsu yang berkembang dalam masyarakat. Sebaliknya ia harus bersikap kritis dan mengajak masyarakat sekolah dan masyarakat di sekitarnya untuk mengubah/membongkar kepalsuan-kepalsuan tersebut sekaligus mentransformasikannya meniaoi praktik-praktik yang lebih berpihak kepada kead'lan sesama, terutama kea ,;lan bagi kaum perempuan.
 laki-laki maupun perempuan. Lingkungan sekolah diarhkan sebagai tempat yang ada berada ai sekitar sekolah mulai dari halaman, kelas, lapangan olah raga labolatorium dan fasiiitas lainnya. Kelas merupakan salah satu tempat/ruang tempat belajar yang ditempat. pal: lg lama setiap harinya ketika anak anak berada di sekolah. Lingkungan akan sangat mempengaruh; cara pandang dan situasi kondusif udaknya terhadap anak.
Guru dan guru perempuan mesti menjadi pilar utama gender meanstrear ing, karena gender merupakan ideologi yang sangat tampak pada perilaku dan perbuatan sehari-hari. Pada masyarakat sekolah yang pada umumnya masih menganut budaya paternalistik,kondisi sedemikian, maka harus diupayakan guru mendapatkan akses terhadap dasar-dasar pengetahuan dan pendidikan gender terlebih dahulu, untuk membukakan pikiran dan nurani akan adanya persoalan tersebut. Karena persoalan gender merupakan persoalan budaya, maka 'pendidikan' gender kepada guru in mungkin tidak dapat d;'aksanakan secara konfrontatif dalam jangka waktu yang pendek.



Pada pertanyaan; apakah guru menjawab pertanyaan - pertanyaan anak laki-laki dan perempuan sama cepatnya. Lebih besar yang menjawab ya, antara lain di Hal yang dapat Lsimpulkan masih ada guru yang memperlakukan siswanya tidak sama antara perempuan dan laki-laki. Lebih lanjut penjelsan guru laki-laki tersebut adalah mereka tidak melakukan hal sama karena takut dikatakan terlalu dekat dengan siswa perempuan akan mendapat sorotan yang negatif dari masyarakat.
 menunjukan percentase 93,75%, kemudian 81,25% dan 79,17%. Daia tersebut di itas menuniukan bahwa hampir semua rswa balk laki-laki maupun perempuan dapat mengeijakan kegiatan-kegiatannya secara bersamaan tanpa ada pi1 h ka:, h atau pemilihan gender didalamnya.
Bahwa siswa laki-laki mendominasi penggunaan tempat bermain yang ada di luar kelas, yang mengatakan  Di sekolah, kegiatan pembekalan diberikan selama enam tahun berturut-turut. Pada saat inilah anak didik dikondisikan untuk dapat berc'kap sebaik-baiknya. Pengertian sekolah dasar sebagai bat.s pendidikan harus benar-benar dapat dipahami oleh semua orang seh./igga mereka dapat mengiKuti pola pendidikannya. Tentunya, dalam hal ini, kegiatan pendidikan dan pembelajarannya mengedepankan landasan bagi kegiatan selanjutnya. Tanpa pendidikan dasar, tentunya sulit bagi kita untuk memahami konsep- konsep baru pada tingkatan leb;h tinggi. Dan masih ada juga yang mengatakan bahwa guru perempuan belum seimbang. Pertemuan dan kebersamaan anak didik dengan satu guru selama mengikut proses pendidikan dalam tahun pelajaran menjadikan anak didik percaya di. i.
Keakraban yang tercipta selama interaksi edukasi menyebabkan kedekatan anak pada guru sedemikian rupa sehingga tidak harus melakukan adaptasi dengan banyak guru, harus disadari bersama bahwa proses adapta i bag seorang anak sangatlah sulit. Selalu ada sesuatu yang menghalangi komunikasi anak d,uii< dengan guru. Dan, penyelenggaraan proses pendidikan dan pembelajaran dengan sistem guru kelas merupakan langkah konkrit untuk hal tersebut.


contoh perilaku berkeadilan gender meniau sangat penting.
Semua kondisi tersebut dapat dijalani dan dilaksanakan sebaik- baiknya j'ka benar-benar memahami pengertian sekolah dasar dalam konteks yang luas. Pendidikan di tingkat sekolah dasar memang sangat menentukan kondisi pend;dikan di tingkat selanjutnya. Oleh karena itulah, maka guru kelas dmarapkan mampu melaksanakan tugas sebaik-baiknya. Dipundak para guru kelas inilah dngkat keberhasilan penuidikan tingkat sekolah dasar ditumpukan
Pembelajaran yang responsif gender, kurikulum dan pembelajaran nyang mengacu pada proses pembelajaran yang senantiasa memberikan perhatian seimbang bagi kebutuhan khusus baik bagi laki-laki maupun perempuan. Pembelajaran yang responsif gender tersebut mengharuskan kepada guru untuk memperhatikan berbaga' pendekatan belajar yang memenuhi kaidah kesetaraan dan keadi'an gender, baik melalui proses pembel; aran, hasil belr-jar, .iteraksi belajar mengajar, pengelolaan kelas, maupun dalam evaluasi. Atau dengan kata lain, konsep belajar yang membantu guru mengrtkan antara materi yang diaiarkannya dengan situasi dunia nyata siswa/siswi yang mendorong peserta didik membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sehari-hari dengan mengintegrasikan prinsip- pnnsip akses, partisipasi, kontrol, dan manfaat yang sama bagi peserta drcuk laki-laki dan perempuan.
konsep gender yang merupakan konstruksi pemosis perempuan dan laki-laki oleh masing-masing siswa di sekolah. Posisi perempuan dan laki-laki bersifat tidak tetap sesuai dengan budaya yang ada di tiap-+iap sekolah. Karena pemosisian perempuan berbeda-beda di tiap-tiap konstruksi gender, ketidakadilan yang dialaminya disebabkan faktor yang berbeda-beda pula. Oleh karena itu, konsep feminisme multikultural juga digunakan dalam penelitian ini. Mengajarkan suatu bahan pelajaran dengan baik, membutuhkan suatu usaha yang memerlukan pengorgar .sas'an yang matang dan semua komponen dalam situasi mengajar. Komponen itu antara lam pemilihan : metode, materi, tuiuan, media, evaluasi dan model pembelajaran. Dalam seluruh kegiatan belajar mengajar komponen model pembelajaran termasuk memegang peranan vang penting. Karena pemilihan strategi mengajar yang tepat dalam penggunaan model pembelajaran sangat menentukan hasil belajar siswa.
 Proses pembelajaran yang perolehan berwawasan kesetaraan dan keadilan gender perlu ditingkatkan karena masl'i terdapat berbagai gejala bias gender di sekolah. Laki-laki cenderung mas.n ditempatkan pada posis; yang lebih menguntungkan dalam keseluruhan proses pendidikan. Muatan buku-buku pelajaran yang mengungkap status dan fungsi perempuan dalam keluarga dan mayarakat belum sepenuhnya peka gender dan memuat konsep kesetaraan gender tersebut tentu akan berpengaruh dalam memelihara, dan meningkatkan kesetaraan dan keadilan gender di dalam proses pendidikan.



Untuk melakukan perubahan dalam suatu institusi pendidikan, tidak bisa melangkah berdasarkan asumsi-asumsi belaka, tetapi seyogyanya berdasarkan data-data yang lebih konkrit yang didapat dar' pengamatan, penelitian dan analisis kmus terhadap lembaga sekolah. Data-data inilah yang kemud an akan ujadikan patokan untuk melangkah dan mengambU keputusan-keputusan strategis dalam melakukan perubahan-perubahan yang dibutuhkan. Sekolah yang respom if gender, ya'tu suatu sekolah responsif gender dimana aspek akademik, sosial, lingkungan fisik, maupun lingkungan masyarakatnya memperhatikan secara seimbang kebutuhan spesifik

Jumat, Januari 15, 2016

ATLET OLAHRAGA MENJADI ENTERPRENEUR PROFESIONAL, SPONSORSHIP, DAN BRANDING

ATLET OLAHRAGA  MENJADI  ENTERPRENEUR PROFESIONAL, SPONSORSHIP, DAN BRANDING
Oleh :
Muharil.S.Pd

ABSTRAK
Mengeksplorasi olahraga wakeboarding untuk memeriksa bagaimana praktisi wanita yang perlu menjadi kewirausahaan dalam rangka untuk hidup dari olahraga. Siswa merenungkan tekanan keuangan menjadi wakeboarder perempuan profesional, dan bagaimana mempertahankan momentum setelah satu ternyata profesional. Signifikansi dan inter¬relationship dari sponsor dan diri-branding figur / promosi mencolok. Biaya bersaing tinggi di situasi yang terbaik, dan hampir dapat diatasi tanpa dukungan perusahaan. Mendapatkan dukungan tersebut membutuhkan tingkat yang sehat pemasaran diri. Pengendara perempuan menawarkan sejumlah anekdot dan ingatan memberikan arti-penting untuk isu-isu tentang keberlanjutan dan jenis kelamin ketidakadilan. Pengendara laki-laki bisa mendapatkan hingga empat kali lebih banyak pada tur dari pengendara perempuan dan ada tekanan untuk beradaptasi dengan '' anak-anak 'klub' 'untuk memajukan karir seseorang. Mencari nafkah melalui keterlibatan dalam wakeboarding sulit bagi wanita. Model kewirausahaan yang disediakan untuk memandu diskusi mahasiswa dalam mengembangkan strategi untuk mengatasi isu-isu untuk wakeboarders perempuan membuat olahraga finansial menarik untuk pesaing perempuan.
Kata kunci: Atlet ,Pengusaha Branding olahraga Sponsorship Action

Atlet olahraga menjadi Pengusaha: Perempuan Profesional wakeboarders, Sponsorship, dan Branding '' kekhawatiran itu sendiri dengan olahraga wakeboarding dan bagaimana praktisi wanita yang perlu kewirausahaan dalam rangka untuk membuat hidup dari olahraga. Catatan ajaran ini menyediakan pedagogi, teoretis, dan metodologi di balik kasus, sedangkan kasus itu sendiri ditulis dengan cara yang lebih didekati untuk mengambil dan memegang perhatian siswa.
Pengenalan untuk kasus ini menyoroti tren luas olahraga selama dua dekade terakhir: pertumbuhan fenomenal diikuti dengan penurunan mantap olahraga tindakan lain mengambil pangsa pasar. Ini memberikan perspektif wakeboarder perempuan, atau

Pembalap yang harus tampaknya berada dalam gerakan konstan agar gairahnya untuk memberikan penghasilan. Pendahuluan kemudian mulai menguraikan perbedaan ekonomi aksi olahraga dan membahas sejarah wakeboarding dalam konteks olahraga tindakan sebelum menutup dengan kesulitan saat menimpa wakeboarding.
Dari pengenalan inti dari kasus ini ada bagian jembatan menerangi pertemuan kewirausahaan, sponsor, dan branding. Titik kunci di sini adalah bagaimana sinergi antara tiga kegiatan tersebut menciptakan nilai dalam industri (pameran 3 dalam kasus). Pertanyaan menyeluruh untuk diskusi adalah bagaimana menghidupkan kembali nasib olahraga.
Bagian ketiga adalah inti masalahnya. Siswa merenungkan tekanan keuangan menjadi wakeboarder perempuan profesional, dan bagaimana mempertahankan momentum setelah satu ternyata profesional. Signifikansi dan antar-hubungan sponsorship dan diri tokoh merek / promosi menonjol dalam bagian ini terjadi. Biaya bersaing tinggi di situasi yang terbaik, dan hampir dapat diatasi tanpa dukungan perusahaan. Mendapatkan dukungan tersebut membutuhkan tingkat yang sehat pemasaran diri. Pengendara perempuan menawarkan sejumlah anekdot dan ingatan sekitarnya keprihatinan ini; pentingnya mereka jelas. Membayangi kedua sponsor dan self-branding, dan dengan perpanjangan tekanan keuangan, adalah isu-isu gender. Pengendara laki-laki bisa mendapatkan hingga empat kali lebih dari apa yang pengendara perempuan terima pada tur, dan ada tekanan untuk beradaptasi dengan klub anak-anak 'untuk memajukan karir seseorang. Mencari nafkah dengan berkuda sulit bagi pria dan wanita, tetapi lebih untuk yang kedua.
Kasus ini diakhiri dengan pertanyaan yang paling menonjol yang dihadapi olahraga dan peserta. Apa yang bisa pengendara wanita lakukan untuk membantu wakeboarding sambil membantu diri mereka sendiri? Apakah proposisi nilai wakeboarding (Exhibit 3 dalam kasus) membutuhkan perombakan total, atau hanya beberapa bermain-main?

2. Tujuan Pengajaran
Untuk mahasiswa sarjana dan pascasarjana dalam manajemen olahraga, kewirausahaan, dan pemasaran. Tema utama dari kasus ini termasuk aktivitas kewirausahaan, branding, ketidaksetaraan gender, dan analisis industri. Sebuah diskusi yang kuat dari tema-tema ini harus mengarah siswa untuk melihat bahwa tidak ada alternatif mudah bagi baik pengendara wanita secara individu atau wakeboarding secara keseluruhan untuk memperbaiki situasi. Dalam waktu dekat, setiap kemajuan cenderung tambahan.
3. Pertanyaan penelitian
Yang menjadi pertanyaan penelitian adalahn :
1. Apakah wakeboarders pengusaha? Mengapa atau mengapa tidak?
2. Periksa sponsor Dallas Jumat di pameran 2. Carilah situs yang disediakan. Bagaimana Anda mencirikan sponsor ini? Apa yang pasar (s) / demografi yang mereka menargetkan?
3. Jelaskan berbagai cara pengendara perempuan dapat membuat merek mereka sendiri. Apa yang Anda pikir akan menjadi cara yang efektif untuk diri merek dalam industri ini? Bagaimana mungkin teknologi, khususnya media sosial, membantu dalam proses ini?
4. Mengenai isu-isu gender, sampai sejauh mana harus pengendara perempuan bekerja sama dengan status quo, dan sejauh mana mereka harus menantang itu? Berapa banyak pengaruh yang pengendara perempuan memiliki?
5. Apa yang bisa wakeboarding lakukan untuk menghidupkan kembali nasib nya? Apakah olahraga membutuhkan model bisnis baru, atau itu cukup untuk menghidupkan kembali yang lama?
6. Bagaimana pengendara individu membantu olahraga karena mereka membantu diri mereka
Sebelum pindah langsung ke pertanyaan ditugaskan, instruktur mungkin ingin terlibat kelas dengan pertanyaan-pertanyaan seperti:
• Bagaimana olahraga tindakan berbeda dari olahraga lainnya?
Tujuan di balik pertanyaan-pertanyaan ini adalah untuk mengukur keakraban siswa dengan topik: apa yang telah mereka lihat dan dengar ke titik ini dari berbagai sumber media? Kasus ini membahas perbedaan antara wakeboarding dan olahraga lainnya. Dalam aksi olahraga seperti wakeboarding, fokusnya adalah pada individu, sebagai lawan tim olahraga seperti basket. Olahraga individu lain, seperti golf dan tenis, memiliki sejarah lebih lama dari aksi olahraga. Akibatnya, mereka juga memiliki pasar yang jauh lebih besar dan gaji bagi para atlet mereka.
Kewirausahaan
Membahas ekonomi olahraga tindakan vs olahraga tradisional dapat menyebabkan alami ke daerah utama pertama kasus: kewirausahaan. Instruktur mungkin mengatakan, Kami telah membandingkan atlet olahraga tindakan untuk mereka dalam olahraga yang lebih tradisional. Kasus ini memberitahu kita bahwa mantan sering harus kewirausahaan dalam rangka untuk mendapatkan penghasilan.
• Apakah Anda berpikir wakeboarders pengusaha?
Pertanyaan ini jelas adalah erat dengan kasus ini. Sebuah pertanyaan yang lebih umum adalah :.
• Siapa pengusaha?
Jika kasus sedang digunakan dalam kelas kewirausahaan, maka siswa sudah cenderung akrab dengan beberapa teori dasar pengusaha dan kewirausahaan. Schumpeter (1934) didefinisikan kewirausahaan dalam hal inovasi. Kewirausahaan melibatkan perubahan radikal dan menuntut hal-hal baru dan penciptaan, baik membawa pasar yang sama sekali baru menjadi ada atau meningkatkan pasar yang ada secara signifikan. Dengan demikian, jenis peluang yang langka, dan ketika mereka terjadi efek mereka dis-menyeimbangkan di pasar saat ini dan mungkin bahkan di masyarakat (Shane, 2003; Troilo, 2010). Konsep dis-equilibrium adalah dasar dari kehancuran kreatif, dimana kapitalisme memperbaharui dirinya sebagai inovasi baru dan bisnis menghancurkan yang lama (Schumpeter, 1942). Pengusaha sebagai inovator / kerajaan-pembangun adalah pandangan populer; menyaksikan daya tarik di seluruh dunia dengan Steve Jobs dan Bill Gates.
Ini harus menunjukkan selama percakapan, bagaimanapun, bahwa jenis pengusaha cukup langka. Jauh lebih umum adalah Kirznerian (1973, 1997) model, yang melemparkan pengusaha sebagai penemu peluang. Setiap inovasi inkremental di alam; fungsi pengusaha untuk membawa pasar ke ekuilibrium melalui arbitrase dan spekulasi (Shane, 2003; Troilo, 2010). Diferensiasi dari pesaing yang ada kecil, dan tidak ada perubahan radikal dalam industri.
Masih aspek lain dari kewirausahaan mungkin muncul. Siswa dapat fokus pada pengusaha sebagai pembawa risiko (Knight, 1921) 0,4 Mereka mungkin membedakan antara mereka yang bekerja sendiri vs orang-orang yang mempekerjakan orang lain (Shane, 2003), di mana mereka dapat mempertimbangkan yang terakhir untuk menjadi pengusaha dan mantan tidak. Mereka juga dapat menunjukkan keadaan, mengatakan bahwa seorang pengusaha memilih untuk menjadi begitu dan bukan seseorang yang hanya Ekes hidup karena dia tidak memiliki pilihan lain (Storey, 1994). Jika siswa belum terkena ide-ide ini, instruktur mungkin merekam pendapat siswa (misalnya, inovator, menanggung risiko) di mana kelas dapat melihat mereka, dan kemudian memperkenalkan teori yang relevan kewirausahaan sebagai diskusi terungkap.
Kasus ini menawarkan definisi yang luas; kewirausahaan melibatkan penemuan, evaluasi, dan eksploitasi peluang untuk memperkenalkan barang baru dan jasa, cara pengorganisasian, pasar, proses, dan bahan baku melalui pengorganisasian upaya yang sebelumnya tidak ada (Shane & Venkataraman, 2000; Venkataram, 1997). Ini kemudian membuat klaim bahwa wakeboarders adalah pengusaha menyediakan layanan (hiburan). Instruktur harus menyelidiki untuk melihat sejauh mana siswa yang skeptis terhadap pernyataan ini. Intinya adalah untuk mendorong siswa untuk membangun argumen suara, tidak memaksa mereka untuk mengadopsi ortodoksi apapun. Kebenaran dari masalah ini adalah bahwa ulama belum menentukan apa yang merupakan seorang pengusaha otentik. Hal ini juga penting untuk dicatat bahwa tidak semua ide yang berbeda dari kewirausahaan yang saling eksklusif; pembawa mengambil resiko juga mungkin akan inovator. Tabel 1 merangkum konsep-konsep ini.
Untuk meringkas bagian ini, wakeboarders tidak pengusaha khas. Ini tidak akan mengejutkan untuk menghadapi ketidaksetujuan mahasiswa, apakah atau tidak pengendara adalah pengusaha. Instruktur harus mendorong siswa untuk mempertimbangkan apa yang membuat seorang pengusaha seorang pengusaha. Apa jenis risiko yang wakeboarders menanggung? Jika tidak ada wakeboarders belum nama rumah tangga, apakah itu berarti bahwa mereka tidak inovator dalam arti Schumpeter?
5 Sponsor dan corporate branding
Bagian ini harus digunakan sebagai primer untuk membahas peran sponsor dan branding korporasi yang berkaitan dengan kedua atlet profesional yang berkompetisi dalam olahraga individu dan bagaimana perusahaan dapat meningkatkan merek mereka melalui jenis sponsorship. Untuk atlet wakeboard sponsor adalah primer (dan mungkin hanya) metode menghasilkan dana untuk membayar biaya pelatihan dan hidup. Diskusi dapat dimulai dengan pertanyaan: Dari sudut pandang perusahaan, apa yang bisa atlet ini membawa ke meja? Ini harus mengarah ke diskusi tentang efektivitas sponsorship olahraga sebagai kendaraan untuk memberikan target pemirsa tertentu. Menarik area mungkin betina wakeboarders sendiri. Di zaman di mana perusahaan harus menerapkan klausul moral dalam kontrak sponsor mereka, mungkin wakeboarders perempuan harus menggunakan gambar yang sehat mereka untuk memasarkan diri mereka sendiri dan olahraga mereka.
Sama pentingnya adalah diskusi yang menarik yang melibatkan perjuangan wakeboarders perempuan untuk mengamankan sponsor dari perusahaan besar yang biasanya menghabiskan dolar iklan mereka di daerah ini. Diskusi ini harus melibatkan masalah mengamankan
             Cukuplah untuk mengatakan bahwa ide-ide Knight mengenai risiko dan ketidakpastian menelurkan sebuah literatur yang sangat besar di bidang ekonomi dan keuangan mengenai apa tepatnya yang dimaksud dengan istilah ini dan apa implikasinya. Mungkin akan membantu pembicaraan untuk memungkinkan siswa untuk menggunakan "resiko '' dan '' ketidakpastian '' bergantian, seperti dalam bahasa sehari-hari.

Shane (2003) menggabungkan kedua dalam definisi selama kajian mendalam literatur. Beberapa akademisi tidak mempertimbangkan wiraswasta (misalnya, pengacara) untuk menjadi pengusaha sedangkan yang lainnya. Ini adalah perbedaan antara seseorang memanfaatkan kesempatan dan membuka usaha dari keinginan yang bertentangan dengan yang menganggur dan perlu untuk menjadi seorang pengusaha. Ini adalah dasar dari kesempatan vs kategori kebutuhan dipopulerkan oleh Global Entrepreneurship Monitor (GEM).
sponsorship dalam olahraga yang (a) tidak memiliki kesepakatan televisi besar; dan (b) tampaknya memfokuskan upaya pada mempromosikan sisi pria kompetisi. Percakapan ini bisa dalam berbagai arah. Siswa harus dibuat sadar akan daya beli rumah tangga yang mengontrol perempuan. Mungkin keunikan wakeboarding akan membantu perusahaan merekrut olahraga yang biasanya tidak akan menghabiskan dolar iklan mereka membeli sponsor olahraga. Pertanyaan untuk siswa:
6 Periksa sponsor Dallas Jumat di pameran 2. Carilah situs yang disediakan. Bagaimana Anda mencirikan sponsor ini? Apa yang pasar (s) / demografi yang mereka menargetkan?
7 Untuk sponsor ini, faktor-faktor apa yang mungkin membedakan produk ini di benak konsumen? Berapa banyak diferensiasi yang nyata vs dirasakan?
4.4. Self-branding dan promosi
Tom Peters, mencatat konsultan manajemen dan penulis, menulis sebuah artikel berjudul The Merek disebut Anda. Dalam artikel Peters mencatat tanpa memandang usia, terlepas dari posisi, terlepas dari bisnis kita kebetulan berada di, kita semua perlu memahami pentingnya branding. Kami adalah CEO perusahaan kita sendiri: Untuk berada dalam bisnis saat ini, tugas kita yang paling penting adalah untuk menjadi pemasar kepala untuk merek disebut Anda (Fast Company, 1997, hal 1.). Tabel 2 merangkum konsep-konsep ini.
Gorse, Chadwick, dan Burton (2010) mencatat Red Bull telah melakukan pekerjaan yang baik menggabungkan kewirausahaan, branding, dan sponsor. Para penulis ini menunjukkan bagaimana perusahaan minuman energi pengusaha berorientasi digunakan pilih sponsorship untuk berdiri keluar dari keramaian dengan menetapkan harga yang lebih tinggi dari merek bersaing, berusaha untuk memperkuat efektivitas dan status produk, dan mendirikan perusahaan sebagai merek premium di mata konsumen (p. 350). The sponsor bahwa perusahaan terdaftar menyoroti sikap pengusaha yang berorientasi perusahaan. Pertanyaan untuk siswa:
8 Jelaskan berbagai cara pengendara perempuan dapat membuat merek mereka sendiri. Apa yang Anda pikir akan menjadi cara yang efektif untuk diri merek dalam industri ini?
9 Apa karakteristik yang harus pameran individu dalam diri-branding?
10 Apa yang dapat wakeboarding lakukan untuk menghidupkan kembali nasib nya? Apakah olahraga membutuhkan model bisnis baru, atau itu cukup untuk menghidupkan kembali yang lama?
11 Bagaimana pengendara individu membantu olahraga karena mereka membantu diri mereka sendiri?
Brady (2007) Untuk merek diri Anda butuhkan: tampilan yang berbeda, penyebab, membuat nama panggilan, terhubung dengan baik
merek, dan merek populer meniru.
Wetsch (2012) Dalam dunia yang terus berubah media sosial, orang yang ingin memasarkan diri harus mengikuti Model Sosial Media AKI (Media Sosial Kesadaran, Pengetahuan, dan Intelijen).
Shepherd (2005) Ada beberapa masalah yang dihadapi orang-orang ketika mereka diri-branding: konflik merek, untuk memiliki satu merek atau banyak, visibilitas, janji-janji palsu, rekayasa pribadi.
Morgan (2011) Personal branding berbicara kepada seseorang penjualan yang unik dan nilai-nilai dalam kompetitif
lanskap dari semua merek lain dan sering sumber kesan pertama bagi para pengambil keputusan.
Bence (2008) Kami sudah merek pribadi; lain memiliki merek Anda dengan cara mereka mempersepsikan, berpikir,
dan merasa tentang Anda; tidak egois; penonton mendefinisikan; menanggapi kebutuhan emosional dan fungsional; kredibel; branding dilakukan 24/7 dan 365 hari setahun; menghindari perilaku negatif; tidak berpura-pura menjadi orang lain.

4.5. Masalah gender
Pertanyaan untuk siswa:
12 Sejauh mana harus pengendara perempuan bekerja sama dengan status quo, dan sejauh mana mereka harus menantang itu? Berapa banyak pengaruh yang pengendara perempuan memiliki?
13 Tanggung jawab apa, jika ada, lakukan sponsor memiliki mengenai ketidakseimbangan gender saat ini dalam olahraga wakeboarding?
Pertanyaan-pertanyaan ini merangsang siswa untuk mempertimbangkan apa yang berhutang: apa kewajiban yang pengendara perempuan harus wanita-wanita yang datang setelah mereka? Tanggung jawab apa yang para sponsor menanggung menuju generasi sekarang pengendara perempuan? Bersaing pengertian keadilan dari berbagai sudut pandang sekuler dan agama akan membingkai percakapan ini. Siswa cenderung lunak dengan wanita saat ini, mengklaim bahwa mereka tidak memiliki banyak pengaruh untuk mengubah situasi. Meskipun benar atlet ini tidak kuat dibandingkan dengan sponsor, orang yang tampaknya tidak berdaya seperti Rosa Parks5 dan Curt Flood6 telah dilakukan perubahan besar dengan menghadapi ketidakadilan. Kadang-kadang katalis untuk reformasi hanya mengambil sikap.
Argumen lain yang umum untuk kerjasama adalah bahwa wakeboarders perempuan dapat mencapai lebih banyak dengan bekerja dalam sistem yang bertentangan dengan pemberontakan. Perbaikan dalam kesetaraan gender cenderung bertahap dan memerlukan beberapa persetujuan untuk stereotip dan sexualizing atlet wanita, setidaknya dalam jangka pendek. Penolakan langsung pada bagian dari sebagian besar perempuan akan objektifikasi mungkin berarti bahwa semua sponsor berjalan kaki, karena seks menjual. Di sisi lain, ada kemungkinan bahwa langkah radikal seperti juga mungkin mengejutkan para sponsor dalam mengindahkan tuntutan perempuan untuk diperlakukan lebih seperti atlet dan kurang seperti objek seks.
Sementara itu mungkin mudah untuk melemparkan sponsor sebagai penjahat makan budaya seksisme, siswa harus didorong untuk mempertimbangkan fakta-fakta lain yang relevan. Kesenjangan dalam hadiah uang, misalnya, mungkin mencerminkan kenyataan bahwa laki-laki adalah pelopor dalam olahraga tertentu, berusaha bergerak lebih berani dan dengan demikian memberikan tingkat yang lebih tinggi hiburan. Para wanita yang diwawancarai untuk kasus ini ingin diperlakukan sebagai atlet serius yang mereka, tetapi mereka juga mengakui bahwa mereka melatih dengan laki-laki karena hal itu meningkatkan kinerja mereka. Sponsor dapat mengontrol bagaimana mereka memperlakukan pengendara perempuan, tetapi mereka tidak dapat mengontrol produk di atas air. Tidak semua kesenjangan gender akan direhabilitasi melalui kebijakan yang lebih tercerahkan pada bagian dari para sponsor. Siswa dapat menunjukkan bahwa sponsor mendukung lebih banyak acara untuk wakeboarders perempuan, tetapi harus ada pengakuan bahwa ini hanya akan terjadi jika para sponsor dapat keuntungan dari mereka. Ada beberapa kontrol di sini pada bagian dari para sponsor, sebagai upaya publisitas mereka dapat membantu untuk menciptakan permintaan untuk peristiwa ini.
5. Metodologi
Kami menggunakan kasus metodologi studi eksplorasi-naturalistik untuk mengumpulkan dan menganalisa data tentang bagaimana wakeboarders profesional perempuan mengelola karir mereka. Menurut Gall, Borg, dan Gall (1996), sebuah analisis data eksplorasi digunakan untuk menemukan pola yang tak terduga atau tak terduga dalam data dan akibatnya mendapatkan wawasan baru dan pemahaman tentang fenomena alam (p. 197). Data dikumpulkan dari berbagai sumber. Ini termasuk: semi-terstruktur wawancara pribadi, pengamatan peserta sebelum, selama, dan setelah wawancara (naik sesi, pelatihan trampolin, yoga dan sesi peregangan, dan down time di dermaga atau di perahu setelah atau sebelum pelatihan), serta review artefak fisik termasuk laporan media dan catatan sejarah.
Dalam paradigma naturalistik, desain muncul dari analisis data kontinu dan ditentukan oleh konteks (Lincoln & Guba, 1985; Yin, 2003). Sifat pengumpulan data melibatkan interaksi manusia yang signifikan dan hubungan didirikan dalam konteks ini selalu mempengaruhi informasi (Lincoln & Guba, 1985). Hal ini penting untuk dicatat bahwa pewawancara, yang merupakan penulis pertama, adalah dirinya seorang pengendara profesional selama tiga tahun, yang dibangun kepercayaan dan akses ke peserta.
5.1. Data
Sampel terdiri dari 12 wakeboarders profesional, yang meliputi enam saat ini dan enam pengendara profesional perempuan pensiunan. Status profesional dari atlet perempuan didefinisikan oleh partisipasi mereka di tingkat profesional dalam wakeboarding selama lebih dari dua tahun dan mendapatkan penghasilan dari status profesional mereka dalam olahraga. Semua peserta adalah perempuan kulit putih berusia lebih dari 18 tahun dengan setengah menjadi 26 atau lebih tua. Sampel adalah transnasional dengan peserta yang mewakili AS, Eropa, dan Asia-Pasifik. Purposive sampling digunakan untuk memilih peserta berdasarkan status profesional mereka di wakeboarding untuk memastikan bahwa beberapa jenis individu atau orang menampilkan atribut-atribut tertentu yang termasuk dalam studi (Berg, 2001, hal. 32). Responden diwawancarai dan diminta untuk menunjukkan responden potensial lainnya, sehingga menciptakan lingkaran purposive sampling dengan mengidentifikasi snowball peserta yang mungkin telah dinyatakan telah diabaikan (Lincoln & Guba, 1985).
 Rosa Parks adalah seorang aktivis dalam gerakan hak-hak sipil AS.
 Curt Banjir adalah seorang pemain US Major League Baseball dan pelopor dalam hak-hak buruh untuk pemain.
memberikan karakteristik demografi untuk 12 individu yang dikutip dalam kasus ini. Karena ukuran populasi kecil dan karakteristik diidentifikasi dari peserta, baik nama asli atau nama samaran yang digunakan. Semua wawancara dilakukan oleh penulis pertama dalam pribadi, tatap muka Wawancara setting.7 berlangsung antara 40 dan 90 menit, yang direkam secara digital, dan diperlukan informed consent sebelum setiap wawancara. Setelah 12 wawancara kami merasa bahwa tidak ada tema baru yang muncul dan bahwa kami telah mencapai kejenuhan data (Creswell, 1998).

Selain itu, catatan lapangan disimpan dalam jurnal reflektif, di mana penulis pertama didokumentasikan pengamatan dan perspektif pribadi untuk memastikan pengalihan (Glense, 2006). Marshall dan Rossman (1995) menekankan catatan lapangan harus dokumentasi sistemik interaksi dengan orang-orang termasuk perilaku mereka (bahasa tubuh dan nada suara), dinamika sosial, lingkungan sekitar (artefak) dan peristiwa yang terjadi dalam pengaturan penelitian. Observasi lapangan merupakan metode yang efektif bagi peneliti untuk memahami kompleksitas dinamika sosial dan bagaimana sikap pribadi peserta dan bias dapat mempengaruhi proses penelitian (Maxwell, 2005).
5.2. Analisis data
Data dianalisis dengan menggunakan metode komparatif konstan dirancang oleh Glaser dan Strauss (1967), yang disempurnakan oleh Lincoln dan Guba (1985) dan disesuaikan dengan analisis isi. Proses ini terdiri dari data unitizing, kategorisasi, dan pola identifikasi. Data analisis berinteraksi dengan pengumpulan data karena setiap wawancara dipandu pengumpulan informasi dari responden berikutnya. Setiap wawancara berakhir dengan pemeriksaan anggota resmi, yang memungkinkan setiap peserta untuk mengubah, memverifikasi, dan memperluas konstruksi. Nama-nama individu dan informasi lain yang disediakan yang bisa menghubungkan peserta untuk identitasnya telah dihapus dari analisis dalam rangka untuk menjaga kerahasiaan responden.
Selama pengembangan penelitian ini, persepsi dan pengalaman masing-masing peserta yang penting dalam mendeteksi dan memahami berulang keteraturan dalam data yang muncul sebagai tema, yang menunjukkan realitas dibagi di antara para atlet. Pada tahap awal analisis kode terbuka diidentifikasi dan kemudian diringkas menjadi kategori awal. Beberapa kode ini meliputi: sumber pendapatan (keluarga, pekerjaan dalam atau di luar industri wakeboard, sponsor, dan / atau pembinaan); sponsorship (persyaratan untuk 'kerja', negosiasi kontrak, pembayaran); menciptakan nama merek (kompetisi, media, pembinaan, dan peran sponsor); dan tuntutan menjadi wakeboarder profesional (pendapatan, wisata, hubungan, fisik, hubungan, identitas alternatif, dan peran). Selanjutnya, kami menyelenggarakan kode terbuka ke kode aksial dengan menghubungkan kode bersama-sama, yang dibantu dalam menemukan kategori analitik yang menonjol (Neuman, 2006). Terakhir, coding selektif dimanfaatkan untuk menghubungkan pengamatan dan tema dari metode pengumpulan data yang berbeda dan menarik sebagainya kutipan disajikan dalam kasus (Creswell, 1998).
Kredibilitas didirikan dengan menggunakan triangulasi tindakan. Cek anggota dengan semua peserta dilakukan untuk lebih meningkatkan kredibilitas. Transferabilitas dicapai oleh penulis pertama menjaga jurnal reflektif yang disediakan narasi kontekstual yang digunakan untuk menguji tingkat kesamaan antara observasi dan wawasan diwawancarai '(Lincoln & Guba, 1985). Seperti semua perempuan yang diwawancarai, penulis pertama adalah wakeboarder profesional. Dia berbagi banyak yang sama kepentingan, nafsu, dan pengalaman. Banyak atlet ini sudah saling kenal selama bertahun-tahun, di mana orang lain hanya menyeberang jalan sebentar; Namun, semua berbagi ikatan umum dan pengalaman yang sama. Meskipun masing-masing memiliki cerita unik sendiri dan perjalanan, cukup mengejutkan untuk menemukan kesamaan dalam cerita dan kepribadian. Banyak kali selama proses wawancara, penulis pertama bisa berhubungan dengan tingkat bahwa subjek tampaknya menceritakan kisah hidup yang sama. Dalam rangka meningkatkan kehandalan, dua dari penulis lain, yang tidak terlibat dalam pengumpulan data dan bukan bagian dari industri wakeboarding, menjabat sebagai auditor dan meninjau semua kode, analisis, dan interpretasi (Erlandson, Harris, Skipper, & Allen, 1993 ).
7 pertanyaan wawancara yang tersedia per permintaan. Mereka terlalu lama untuk dimasukkan dalam naskah.




DAFTAR PUSTAKA
Berg, B. L. (2001). Metode penelitian kualitatif untuk ilmu-ilmu sosial (4th ed.). MA: Allan dan Bacon.
Creswell, J. W. (1998). Penyelidikan dan penelitian desain kualitatif: Memilih antara 5 tradisi. Thousand Oaks, CA: Sage.
Erlandson, D., Harris, E., Skipper, B., & Allen, S. (1993). Melakukan penyelidikan naturalistik. Newbury Park, CA: Sage.
Fast Company. (1997). Merek Dipanggil Anda oleh Tom Peters. Situs diakses 26 Februari 2013 di http://www.fastcompany.com/28905/brand-called-you. Gall, M. D., Borg, W. R., & Gall, J. P. (1996). Penelitian pendidikan, pengenalan (6 ed.). White Plains, NY: Longman Penerbit. Glaser, G. G., & Strauss, A. L. (1967). Penemuan grounded theory: Strategi untuk penelitian kualitatif. NY: Aldine Press. Glense, C. (2006). Menjadi penelitian kualitatif: (. 3rd ed) Sebuah Pengantar. New York, NY: Pearson.
Gorse, S., Chadwick, S., & Burton, N. (2010). Kewirausahaan melalui pemasaran olahraga: Sebuah studi kasus Red Bull dalam olahraga. Journal of Sponsorship, 3 (4), 348-357. Knight, F. (1921). Risiko, ketidakpastian, dan keuntungan. New York: Augustus Kelly Publishing. Kirzner, I. (1973). Persaingan dan kewirausahaan. Chicago: University of Chicago Press.
Kirzner, I. (1997). Penemuan kewirausahaan dan proses pasar yang kompetitif: Sebuah pendekatan Austria. Jurnal Sastra Ekonomi, 35 (1), 60-85.
Lincoln, Y. S., & Guba, E. (1985). Penyelidikan naturalistik. New York, NY: Sage.
Marshall, C., & Rossman, G. B. (1995). Merancang penelitian kualitatif. London, UK: Sage.
Maxwell, J. A. (2005). Desain penelitian kualitatif. Pendekatan interaktif (2nd ed.). Thousand Oaks, CA: Sage.
Neuman, W. L. (2006). Metode penelitian sosial: pendekatan kualitatif dan kuantitatif (6 ed.). Boston: Pearson Education.
Schumpeter, J. A. (1934). Teori pembangunan ekonomi. Cambridge: Harvard University Press.
Schumpeter, J. A. (1942). Kapitalisme, sosialisme, dan demokrasi. New York: Harper Brothers.
Shane, S. (2003). Sebuah teori umum kewirausahaan. Northampton: Edward Elgar Press.
Shane, S., & Venkataraman, S. (2000). Janji kewirausahaan sebagai bidang penelitian. Akademi Manajemen Review, 26 (1), 13-17. Storey, D. (1994). Memahami sektor usaha kecil. London: Routledge Press.
Troilo, M. (2010). Peran kepercayaan untuk penciptaan UKM baru: Perbedaan motivasi dan kesempatan. International Journal of Kewirausahaan dan Inovasi, 11 (2), 129-139.
Venkataram, S. (1997a). Domain khas dari penelitian kewirausahaan: perspektif Sebuah editor. Dalam Katz, J., & Brockhaus, R. (Eds.), Kemajuan

kewirausahaan, munculnya perusahaan dan pertumbuhan pp. 119-138). (3Greenwich, CT:.... JAI Tekan Yin, RK (2003) Aplikasi penelitian studi kasus (2nd ed) Thousand Oaks, CA: Sage.

Rabu, Januari 13, 2016

PRINSIP BIOMEKANIK PADA CABANG OLAHRAGA ATHLETIK NOMOR LARI SPRINT DAN MENERAPKAN PRINSIP BIOMEKANIK DALAM KONSEP DASAR FLETCHER

PRINSIP BIOMEKANIK PADA CABANG OLAHRAGA ATHLETIK NOMOR LARI SPRINT DAN MENERAPKAN  PRINSIP BIOMEKANIK
 DALAM KONSEP DASAR FLETCHER

Oleh :
MUHARIL.S.Pd


Daftar isi
• Panjang Langkah
• Frekuensi Langkah
• Hukum Newton
• Menjalankan Mekanika

Kecepatan
• panjang langkah  x frekuensi langkah= kecepatan
• Pada kecepatan berjalan lebih cepat (di atas 7m s-1) frekuensi meningkat langkah lebih panjang langkah
- Sampai dengan panjang 2.6m langkah & frekuensi 5Hz
• Produksi Angkatan meningkat dengan kecepatan berjalan
- Sampai dengan 4,6 x berat badan
- NB 5,5 x berat badan untuk striker tumit di 9.5m s-1
• Max kecepatan gerak kontak 0.08- 0,1 detik Mero dkk. (1992)
• peningkatan panjang langkah, frekuensi langkah, produksi kekuatan atau penurunan kontak dengan tanah akan meningkatkan kecepatan

Apakah pelatihan Anda dirancang untuk mengubah?
Newton 2 Hukum Gerak
• Momentum
• Hukum percepatan

Tingkat perubahan momentum dari sebuah benda (percepatan) sebanding dengan gaya menyebabkannya & terjadi di arah di mana tindakan kekerasan
• = kecepatan x massa (mv)
• Ingat F = ma
- Jadi percepatan dapat bekerja dari kekuatan yang dikenal cukup mudah (a = F / m)
Impuls
• Terkait dengan Hukum Newton 2
• Angkatan x kalinya diterapkan = impuls ke objek
• r = 0,74 antara kekuatan pendorong & berjalan kecepatan dalam kontak 1 setelah blok (Mero dkk., 1992)
Impulse- Momentum Hubungan
• Perlu untuk mengerahkan kekuatan yang menyebabkan perubahan dalam kecepatan
• Arah gaya menyebabkan arah percepatan
• Meningkatkan kekuatan momentum kenaikan
• Atau dorongan peningkatan yang lebih tepat meningkatkan momentum
Newton 3 Hukum Gerak
• Untuk setiap tindakan (kekerasan) yang diberikan oleh 1 objek pada 2, ada reaksi yang sama & berlawanan (kekuatan) yang diberikan oleh objek 2 pada tanggal 1 - misalnya gaya reaksi tanah

Komponen Sprint
• Kecepatan = panjang langkah frekuensi x langkahnya
- 2m / langkahnya x 4 langkah / s = 8ms-1
• Peningkatan komponen baik tidak harus negatif mempengaruhi lainnya
Panjang Stride
• Jumlah
• jarak Takeoff

 Jarak horizontal yang C G adalah maju dari lepas landas kaki di instan yang terakhir meninggalkan tanah
• jarak Penerbangan
- Jarak horizontal bahwa C G perjalanan sementara pelari di udara
• jarak Landing

Jarak horizontal bahwa ujung kaki memimpin maju dari C G di tanah sprinter instan
Landing Distance (Tahap Dukungan)
• Terkecil dari 3 kontribusi terhadap total panjang langkah
• Penangkapan atlet gerakan ke bawah (percepatan gravitasi ditambah kaki keturunan aktif)
- Tiga fleksi menyerap tenaga
- Siapkan untuk fase mengemudi
• Perlu pasukan reaksi tanah sebagai menguntungkan mungkin
- Meningkatkan jarak pendaratan dapat meningkatkan gaya putus sehingga menurunkan kecepatan berjalan sebagai frekuensi langkah menurun
- Posisi Foot bawah C G perjalanan mundur
- Fase Melanggar kurang pelari cepat (. Mero et al, 1992)
Cara Batasi Melanggar Angkatan?
Atlet di fase penerbangan
C G bergerak maju dengan kecepatan horisontal ditentukan saat atlet meninggalkan tanah
- C G bergerak di 10 m-s_1
- Memimpin kaki kaki bergerak maju pada 2 m-s_1
- Kecepatan Landing kaki = 12 m-s_1
- Arah kaki perjalanan akan mengubah atau mempertahankan atlet gerak
- Tindakan mengais-ngais di kontak dengan tanah, tapi masalah dengan stres hamstring

Posisi kaki
• Pentingnya dorsi tertekuk pergelangan kaki
- Energi Toko regangan dari peregangan dan recoil betis kompleks (Achilles tendon)
- Stretch Pra betis kompleks membantu mempromosikan Siklus Peregangan Shortening
- Waktu Penurunan kopling antara kontraksi eksentrik dan konsentris
- Toko kerja mekanik sebagai energi elastis selama fase eksentrik (Biewener & Roberts, 2000)
- Puncak Achilles tendon kekuatan (12-13 x tubuh wt.)
Ketegangan-Panjang Hubungan
Otot, tendon & ligamen berperilaku seperti pegas
- Frekuensi langkah yang lebih tinggi dikaitkan dengan peningkatan semi (MTU) kekakuan (Farley & Gonzalez, 1996)
- EMG di GA dimulai 100ms sebelum kontak dengan tanah membantu meningkatkan MTU kekakuan (Mero & Komi, 1987)
Lepas landas Jarak (Mengemudi Tahap)

Menurunkan dan mundur melalui perluasan kuat dari pinggul, lutut dan pergelangan kaki rantai kinetik
- Proyek tubuh ke atas & depan
• Pentingnya ekstensi penuh untuk memberikan dorongan lebih besar memaksimalkan momentum ke depan
• Puncak daya yang dihasilkan proksimal urutan distal
Frekuensi Stride
• Kombinasi waktu kontak dengan tanah dan fase waktu penerbangan
• Rasio antara 2
-2: 1 selama awal
- 1: 1,3 / 1: 1,5 dengan kecepatan max (Housden, 1964)
- Mulai 67% kontak dengan tanah
Kecepatan -Top 40-45% kontak dengan tanah (Atwater, 1981)
• atlet Waktu dalam kontak dengan tanah diatur terutama
- Lepaskan kecepatan dari langkah sebelumnya
- Dengan kecepatan kaki kaki dukungan
- Tubuh Mengemudi ke depan dan ke atas ke tahap berikutnya penerbangan
• pelari cepat memperpanjang pinggul lanjut (Kunz & Kaufmann, 1981)
- Meningkatkan kekuatan kalinya diterapkan
- Meningkatkan impuls
• kontak tanah pendek di berlari elit
- Hasil maju tinggi kecepatan bukan penyebab dari mereka
- Jadi tubuh perjalanan kaki masa lalu yang sangat cepat
- V = d / t
- Waktu = jarak / kecepatan (t = d / v)

Hip Ekstensi



Tahap penerbangan (Tahap Pemulihan)
• Selama fase penerbangan tubuh ditentukan oleh gerak peluru
- Kecepatan Rilis
- Sudut melepas
- Tinggi rilis
-           Tahan udara
• kecepatan paling penting dari rilis
- Ditentukan oleh gaya reaksi tanah diberikan pada atlet
- Terkait dengan memaksa diproduksi di perpanjangan tiga pinggul, lutut dan pergelangan kaki

Momen inersia
• Inersia: kecenderungan tubuh untuk melawan percepatan
- Meningkat Mass, inersia meningkat
• Dalam distribusi rotasi massa penting
- Massa Mendekati sumbu rotasi lebih mudah untuk memindahkan objek
• I = MK2 (kgm2)
- Saya = momen inersia
- K = jari-jari rotasi
• Distribusi massa terhadap sumbu rotasi (C G anggota badan)
- M = massa
Momen inersia
Tahap pemulihan
 Foot daun track
- Hip akan memperpanjang awalnya
-Lalu Paksa memutar ke depan, sementara lutut berputar ke belakang
- Massa dari kaki sedekat mungkin dengan sumbu rotasi pinggul
- Fleksi dari pinggul dan lutut mengurangi momen inersia seluruh kaki
- Memungkinkan rotasi maju lebih cepat
• Sebagai paha mencapai dekat horisontal
• Lutut akan memperpanjang & ekstremitas akan mulai turun ke lintasan
• General sudut lebih akut antara batang dan paha dengan kecepatan berjalan lebih cepat
Teknik Sprint
• Perlu untuk kelancaran koordinasi kaki, lengan dan batang
• Kaki
- Tindakan Siklus
•           Senjata
- Gerakan Berlawanan dengan kaki
Pentingnya tindakan lengan
• Konservasi Momentum Sudut
• Hukum Ketiga Newton
- Setiap (sudut) tindakan memiliki (sudut) reaksi yang sama dan berlawanan
- Tapi jumlah (sudut) momentum tubuh tetap konstan di steady state berjalan, kecuali kekuatan eksternal mempengaruhi kita
• Kapan momentum sudut kaki di terbesar dan paling?
Kaki di Ground Hubungi
• leg Dukungan langsung berputar mundur
• Foot pada kecepatan maksimum bergerak mundur
• massa Leg didistribusikan sebagai jauh dari pusat pinggul rotasi mungkin
• Momentum sudut maksimal selama siklus lari
• tanah Foot garis luar gravitasi
• Menyebabkan torsi (berputar efek) di pinggul, menyebabkan searah jarum jam atau berlawanan arah jarum jam rotasi (tergantung pada L atau R kaki touchdown)
Pemulihan Leg
• Memutar ke depan
• Lutut dan pinggul tertekuk
• Mass didistribusikan sebagai dekat dengan sumbu hip mungkin
• Momentum sudut pada yang paling
• Meningkatkan berputar pinggul dalam arah yang sama dengan sentuhan bawah kaki
Efek
• Pemintalan sprinter R kemudian L dengan setiap langkahnya
• Kecuali rotasi kontra bertindak
• Mengapa lengan begitu penting
Arm Action
• Senjata bekerja kontralateral (berlawanan)
• Untuk mengontrol rotasi hip
• Lengan menentang dukungan tungkai perlu memiliki momentum sudut terbesar
-Arm Berputar mundur mempercepat untuk meningkatkan kecepatan tangan dan meluruskan untuk mendistribusikan massa lebih jauh dari pusat bahu rotasi
• Lengan menentang pemulihan anggota tubuh membutuhkan momentum sudut kurang
- Pukulan ke depan dengan melenturkan siku
- Salurkan massa lebih dekat dengan sumbu bahu

 Hinrichs (1987) menunjukkan momentum hampir semua rotasi yang dihasilkan oleh kaki menetral oleh lengan ayun Untuk Jalankan Faster
• Tanah Hubungi Tahap
• Ayunan kaki belakang lebih cepat
- Meningkatkan torsi dikembangkan oleh hip otot ekstensor
• Mendistribusikan massa kaki sebagai dekat dengan pinggul mungkin
- Pelari paha otot lebih dekat ke pinggul (. Kumagia et al, 2000)
- Pentingnya distribusi otot
• Betis, paha belakang, glutes dan paha depan posisi
- Dilatih atau genetik?
Momen Force (Torque)
• percepatan sudut (a) dari suatu benda sebanding dengan torsi bersih (T) yang bekerja padanya & berbanding terbalik dengan inersia (I) dari objek
- T = Ia atau = T / I
• peningkatan percepatan Jadi sudut jika kenaikan torsi atau inersia menurun
Berlari otot di pinggul menghasilkan torsi sendi di sekitar sendi panggul
• Meningkatkan torsi (T) akan meningkatkan kecepatan sudut (w) dari kaki dan sebaliknya meningkatkan kecepatan linear (v) dari kaki
• v = TW
• Pentingnya penguatan ekstensor hip rantai / posterior
• Tahap Pemulihan
• Penting untuk mengurangi momentum sudut
- Sembuh bum pemulihan sebagai hip otot relatif kecil / lemah
- Mendistribusikan massa lebih dekat dengan sumbu rotasi pinggul
Tahap perlambatan
• penurunan tingkat Stride
• Panjang Stride sedikit meningkat
• kontak tanah dan waktu penerbangan meningkat
• Meningkatkan fase melanggar
• Peningkatan keturunan vertikal C G
• pemogokan kaki Menyanjung
Pendek Vs Pelari Tinggi (Limb
Panjangnya)
• tungkai lebih panjang memungkinkan kecepatan kaki yang lebih besar dengan kecepatan sudut konstan hip
• Namun perlu kekuatan lebih sebagai massa didistribusikan lebih lanjut dari pinggul (inersia sudut yang lebih besar)
• tungkai pendek memiliki keuntungan kekuatan yang lebih besar, namun kecepatan kaki yang relatif lebih lambat
• Perbedaan kebutuhan pelatihan?
Sumber informasi
• Biomekanik
- Blazevich, A. (2007) Olahraga Biomekanik. AC Hitam
• Teknik Sprint
- IAAF Panduan Video (Sprint) Bagian 1, 2, 3 (Di yoUtube)

Daftar pustaka
• analisis kinematik Atwater, AE (1981) dari berlari. Di Hay J.G. Biomekanik olahraga. 4 Ed. Prentice-Hall. London
• Biewener, A. & Roberts, T.J. (2000) Otot & tendon kontribusi untuk memaksa, pekerjaan & energi elastis tabungan: perspektif komparatif. Exerc. Sport Sci. Ulasan. 28: 99-107
• Farley, C.T. & Gonzalez, O. (1996) Leg kekakuan & frekuensi langkah dalam menjalankan manusia. J. Biomech. 29: 181
• Hinrichs, R.N. (1987) fungsi ekstremitas atas dalam menjalankan. II: pertimbangan momentum sudut. Int. J. Sport Biomech. 3: 242-63
• Analisis Teknik Housden, F. (1964) dari gerakan berjalan. Di Hay J.G. Biomekanik olahraga. 4 Ed. Prentice-Hall. London
Referensi
• Kumagai, K. et al. (2000) kinerja Sprint berhubungan dengan otot panjang bulir di pelari 100m pria. J. App. Physiol. 88: 811-16
• Kunz, H. & Kauffman, D.A. (1981) analisis biomekanik dari berlari: juara Decathletes Vs. Br. J. Olahraga Med. 15: 177-81
• Mann, R. & Herman, J. (1985) analisis kinematik dari Olimpiade pertunjukan lari: 200m mens. Int. J. Olahraga Biomech. 1: 151-62
• Mero, A. & Komi, P.V. (1987) aktivitas elektromiografi dalam berlari pada kecepatan mulai dari submaksimal ke supra-maksimal. Med. Sci. Olahraga Exerc. 3: 266-74
• Mero, A., Komi, P.V. & Gregor, R.J. (1992) Biomekanik sprint berjalan. Olahraga Med. 13: 266-274

Penguatan Program Mandatori optimalisasi Tugas Dan Fungsi APKS PGRI, LKBH PGRI serta pengelolaan Keanggotaan dan Keuangan melalui PGRI, SLCC PGRI dan DKGI Organisasi

Penguatan Program Mandatori optimalisasi Tugas Dan Fungsi APKS PGRI, LKBH PGRI serta pengelolaan Keanggotaan dan Keuangan melalui PGRI, SLCC...