Sabtu, Oktober 31, 2015

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN (RPP LOMPAT JAUH)

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN

Sekolah                                             :  SMP Negeri 1 Aceh
Mata Pelajaran                                :  Pendidikan Jasmani, Olahraga dan Kesehatan
Kelas/Semester                                 :  VIII (Delapan )/1 (satu)
Materi pokok                                   :  Atletik/lompat jauh
Alokasi Waktu                                 :  1 x 3 x 40 menit ( 1 x pertemuan)

A.    Kompetensi Inti   :
1.    Menghargai dan menghayati ajaran agama yang dianutnya.
2.    Menghargai dan menghayati perilakujujur, disiplin, tanggung jawab, peduli (toleransi, gotong royong), santun, percaya diri, dalam berinteraksi secara efektif dengan lingkungan sosial dan alam dalam jangkauan pergaulan dan keberadaannya.
3.    Memahami pengetahuan (faktual, konseptual, dan prosedural) berdasarkan rasaingin tahunya tentang ilmu pengetahuan, teknologi, seni, budaya terkait fenomena dan kejadian tampakmata.
4.    Mencoba, mengolah, dan menyaji dalam ranah konkret (menggunakan, mengurai, merangkai, memodifikasi, danmembuat) dan ranah abstrak (menulis, membaca, menghitung, menggambar, dan mengarang) sesuai dengan yang dipelajari di sekolah dan sumber lain yang sama dalam sudut pandang/teori.

B.     Kompetensi Dasar dan Indikator Pencapaian Kompetensi
1.1         Menghayati dan mengamalkan nilai agama yang dianut dalam melakukan aktivitas jasmani, permainan, dan olahraga;
2.1         Bertanggung jawab dalam pengunaan sarana dan prasarana pembelajaranserta menjaga keselamatan diri sendiri,orang lain dan lingkungan.
2.2         Disiplin selama melakukan berbagai aktivitas fisik
3.1         Memahami konsep keterampilan gerak fundamental atletik
a.         Mengidentifikasi berbagai gerak fundamental atletik melalui lompat jauh gaya menggantung
b.         Menjelaskan konsep gerak fundamental atletik melalui lompat jauh gaya menggantung
c.         Menjelaskan cara melakukan gerak fundamental atletik melalui lompat jauh gaya menggantung
4.1     Mempraktekkan teknik dasar keterampilan aktivitas gerak berirama
a.       Melakukan teknik awalan lompat jauh gaya menggantung
b.      Melakukan teknik tolakan lompat jauh gaya menggantung
c.       Melakukan teknik saat badan di udara lompat jauh gaya menggantung
d.      Melakukan teknik mendarat lompat jauh gaya menggantung
e.       Melakukan kombinasi gerak lompat jauh gaya menggantung

C.    Materi Pembelajaran
Untuk mempelajari prinsip dasar atletik menggunakan  lompat jauh sebagai alat pada pembelajaran pendidikan jasmani, olahraga dan kesehatan, perlu dilakukan secara bertahap dan prosedural. Bertahap dalam arti pembelajaran pola  gerak dasar dilakukan dari yang ringan ke yang berat, dari yang sederhana ke yang rumit, sedangkan prosedural  berkaitan dengan urutan prinsip gerakan yang harus dilakukan, bertujuan agar  peserta didik dapat dengan mudah untuk mempelajari prisip dasar gerak, hingga dalam penguasaan kompetensi tidak mendapat kesulitan, terutama yang berhubungan dengan gerak variasi dan kombinasi.
Akhir dari pembelajaran atletik menggunakan lompat jauh yang dilakukan pada peserta didik sebagai berikut :
a.       Memiliki keterampilan pola gerak dasar menggunakan lompat Jauh gaya menggantung
b.      Memiliki pengetahuan tentang pola gerak dasar menggunakan lompat Jauh gaya menggantung, memahami,    mengenal konsep ruang dan waktu
c.       Pembelajaran lompat Jauh gaya menggantung yang sesuai dapat memberi pengalaman belajar,kesempatan untuk menggunakan dan beradaptasi dengan keterampilan motorik, dan menggunakannya pada situasi yang berubah-ubah
d.      Memiliki sikap, seperti: kerjasama, sportifitas, menghargai perbedaan individu, dan tanggungjawab, dapat memahami budaya orang lain

1.      Konsep keterampilan prinsip dasar permainan atletik dengan lompat jauh yang perlu dikuasi sebagai berikut:
Variasi dan kombinasi dalam lompat jauh adalah gabungan beberapa bentuk gerakkan prinsip dasar dengan berbagai cara, seperti : melakukan prinsip dasar mengambil awalan, menuju, dan gerakan saat di udara, baik secara perorangan, berpasangan maupun kelompok.  Akhir dari pembelajaran variasi dan kombinasi prinsip dasar ini adalah untuk meningkatkan pengetahuan, keterampilan  penanaman nilai disiplin, menghargai perbedaan, tanggung jawab, dan kerjasama, berikut bentuk kombinasi pembelajarannya
2.      Aktivitas awalan melangkah mundur 4, 6, 8 atau 10 langkah dan melangkah kembali ke depan ke arah papan tumpuan, hingga kaki tumpu tepat menginjak papan tumpuan
a)      Persiapan : berdiri posisi melangkah depan belakang, kaki paling depan menginjak papan tumpuan (kaki kanan), menghadap arah bak lompat, badan tegak, kedua lengan di samping badan,
b)      pelaksanaan : langkahkan kaki depan (kanan) ke belakang, setelah itu kaki kiri, untuk tahap pertama, lakukan empat  langkah mundur, lalu kembali kembali melangkah kedepan depan empat langkah, hingga kaki kanan bertumpu seperi semula, maka langkah mundur dapat dijadikan titik awal untuk melompat, lakukan untuk tahap kedua,ketiga, dan keempat dengan langkah enam,delapan, dan sepuluh, focus perhatian pada gerak melangkah kaki dan ketepatan kaki tumpu menginjak papan tumpuan, bila langkah terakhlr kaki kanan (di belakang), maka untuk pertama melangkah kembali ke depan menggunakan kaki kanan.




3.      Prosedural variasi Aktivitas awalan lari melalui tanda yang dibuat pada lintasan, untuk mengatur irama lari dan melangkah, hingga kaki tumpuan tepat mendarat pada papan tumpuan,
a)      persiapan : berdiri posisi melangkah depan belakang, kaki paling depan menginjak tanda tumpuan (kaki kanan),  menghadap arah bak lompat, badan tegak, kedua lengan di samping badan,dilakukan secara berkelopok,
b)      pelaksanaan : lakukan lari cepat melalui tanda, diawali kaki kanan melangkah, langkah terakhir kaki kanan tepat bertumpu pada papan tumpuan.


4.      Prosedural Aktivitas menolak melewati atas box :
a)      persiapan : berdiri posisi menghadap bangku, badan  tegak, kedua lengan di samping badan, dilakukan secara berkelompok, jarak antara bangku (2—3langkah)
b)      pelaksanaan:Lakukan gerak melangkah diantara bangkudan langkah terakhir dilanjutkan dengan gerak menolak melalui atas bangku.


5.      Aktivitas gerak melenting di udara dari  atas box senam dan  mendarat pada matras/ bak lompat :
a)      persiapan : berdiri di atas box menghadap matras, badan agak condong ke depan, kedualengan di samping belakang badan,dilakukan secara berkelopok,
b)      pelaksanaan : kedua lutut direndahkan dan kedua lengan ke belakang badan, tolakkan kedua kaki pada box bersamaan kedua lengan diayun ke depan atas hingga pinggang melenting dan, mendarat pada matras dengan kedua kaki.
6.      Aktivitas gerak rangkai prinsip dasar lompat jauh :
a)      persiapan: berdiri posisi melangkah menghadap bak lompat jauh atau menghadap matras, badan agak condong ke depan, kedua lengan di samping badan, dilakukan secara berkelompok
b)      pelaksanaan : lakukan awalan lari dengan cepat ke arah tempat bertumpu dan saat kaki tumpu menginjak tempat bertumpu tolakan ke depan atas,  lentingkan pinggang ke belakang lalu mendarat pada tempat pendaratan.







D. Langkah langkah Pembelajaran
KEGIATAN
DISKRIPSI
WAKTU
Pendahuluan
Ø  absensi siswa
Ø  berdoa
Ø  apersepsi  
15 menit
Inti
Ø Pemanasan yang berkaitan dengan pembelajaran
Ø  mengamati variasi melangkah mundur 4, 6, 8 atau 10 langkah dan melangkah kembali ke depan ke arah papan tumpuan, hingga kaki tumpu tepat menginjak papan tumpuan
Ø  mengamati variasi Aktivitas awalan lari melalui tanda yang dibuat pada lintasan, untuk mengatur irama lari dan melangkah, hingga kaki tumpuan tepat mendarat pada papan tumpuan,
Ø  mengamati variasi Aktivitas menolak melewati atas box
Ø  mengamati gerak melenting di udara dari  atas box senam dan  mendarat pada matras/ bak lompat
Ø  Guru mendemonsrasikan gerakan kombinasi melangkah mundur, awalan lari, menolak, melinting kepada peserta didik
Ø  Peserta didik mengamati gerakan yang dilakukan oleh guru
Ø  Peserta didik diberi kesempatan untuk bertanya tentang gerakan yang di demonstrasikan oleh guru
Ø  Peserta didik diberi kesempatan untuk mencoba gerakan yang di demontrasikan oleh guru yaitu teknik kombinasi melangkah mundur,awalan lari,menolak,menggantung dan mendarat
Ø  Peserta didik melakukan lompat jauh dengan peraturan di modifikasi kan
90 menit
Penutup
Ø  Menyimpulan dari hasil pembelajaran
Ø  evaluasi proses pembelajaran
Ø  Melakukan refleksi dengan tanya jawab kepada peserta didik
Ø  menyampaikan pesan moral
Ø  Menyampaikan tugas pembelajaran berikutnya
Ø  Berdoa setalah aktifitas.
15 menit


E.  Metode
Metode yang digunakan resiprokal

F.   Penilaian
            1. Sikap spiritual dan sikap Sosial
            2. Pengetahuan (Tes Tertulis)
            3. Ketrampilan  ( Tes Unjuk Kerja)

F. Media/alat, bahan, dan sumber belajar.
     MEDIA / alat, bahan :
Ø    Lapangan                                Kardus bekas
Ø    Peluit                                       Balok tumpuan
Ø    Bak pasir
                       
Sumber belajar :
Ø         Buku guru kementerian pedidikan dan kebudayaan, Muhajir dan Budi Sutrisno, Pusat
Kurikulum dan Pembukuan Kementrian Pendidikan Kebudayaan, Jakarta Tahun 2014
Ø    Buku siswa kementerian pendidikan dan kebudayaan, Muhajir dan Budi Sutrisno, Pusat Kurikulum dan Pembukuan Kementrian Pendidikan Kebudayaan, Jakarta Tahun 2014

Mengetahui                                                                                Pajar, 20 Oktober 2015
Kepala Sekolah                                                                          Guru PJOK
          

                                                                          
Nip.19723e333                                                               Nip.125w56728792







































LEMBAR KEGIATAN PENGAMATAN

Nama                           :
Kelas/Semester            :
Materi                          : Lompat jauh gaya menggantung

Contreng pada kolom benar atau salah menurut hasil diamati

No
Teknik yang diamati

Benar
Salah
Keterangan
1
Lari dengan secepat-cepatnya




2
Pada saat kaki mengenai papan tumpuan menolak dengan kuat kedepan atas



3
Pada saat badan di udara bandan seperti menggantung



4
Pada saat mendarat berat badan dibawa kedepan

























































Lampiran 1.A
LEMBAR OBSEVASI NILAI SIKAP SPIRITUAL
KELAS/SEMESTER             : VIII / Semester 1
TAHUN PELAJARAN         :  2015 / 2016
PERIODE PENIALAIAN    :  tanggal 11 s,d 16 oktober 2015
BUTIR NILAI/KD                : 1.1 Menghayati dan mengamalkan nilai-nilai agama yang dianut dalam melakukan aktivitas jasmani, permainan, dan olahraga, dicerminkan dengan:
a.       Pembiasaan perilaku berdoa sebelum dan sesudah pelajaran.
b.      Selalu berusaha secara maksimal dan tawakal dengan hasil akhir.
c.       Membiasakan berperilaku baik dalam berolahraga dan latihan.
INDIKATOR                         :          

No
Indikator pencapaian Kompetensi
Skor (1 s.d 4)
4
3
2
1
1
1.1.1. Berdoa sebelum dan sesudah melakukan kegiatan pembelajaran




2
1.1.2. Menunjukkan sikap berusaha secara maksimal dalam melakukan pembelajaran dengan tetap meningkatkan kemampuan dan menampilkan sikap tawakal terhadap hasil akhir




3
1.1.3. Menunjukkan perilaku baik dengan melakukan gerakan sesuai fungsi tubuh (kodrat)





Pengsekoran:   Skor 4 Jika Selalu
 Skor 3 Jika Sering
 Skor 2 Jika Kadang kadang  
 Skor 1 Jika Jarang

   Nilai Perolehan / Maksimal x 4 =  (8 / 12  x 4 = 2,66)
No
Nama Peserta Didik
Skor Indikator Sikap Spiritual (1 s.d 4)
Jumlah Skor
Nilai
Indikator 1
Indikator 2
Indikator 3


















































































Lampiran 1.B
LEMBAR OBSEVASI NILAI SIKAP SOSIAL
KELAS/SEMESTER             : VIII / Semester 1
TAHUN PELAJARAN         : 2014 / 2015
PERIODE PENIALAIAN    : tanggal 11 s,d 16 november 2014
BUTIR NILAI/KD                :  
2.1.  Berperilaku sportif dalam bermain.
2.2.  Bertanggung jawab dalam penggunaan sarana dan  prasarana pembelajaran serta menjaga keselamatan diri sendiri, orang lain, dan lingkungan sekitar.
2.3.  Menghargai perbedaan karakteristik individual dalam melakukan berbagai aktivitas fisik.
2.4.  Menunjukkan kemauan kerjasama dalam melakukan berbagai aktivitas fisik .
2.5.  Toleransi dan mau berbagi dengan teman dalam melakukan berbagai aktivitas fisik.
2.6.  Disiplin selama melakukan berbagai aktivitas fisik.
2.7.  Menerima kekalahan dan kemenangan dalam permainan
2.8.  Memiliki perilaku hidup sehat                                     
                                                           
INDIKATOR             :

No
Indikator pencapaian Kompetensi
Skor (1 s.d 4)
4
3
2
1
1
2.1.1. Saat bermain menunjukkan permainan tidak curang




2
2.2.1. Saat bermain menunjukkan permainan sikap sportif




3
2.3.1. Tidak melakukan gerakan yang dapat membahayakan diri sendiri dan orang lain




4
2.4.1. Dalam melakukan aktivitas fisik yang dilakukan secara berkelompok, beregu, dan berpasangan perlu memperhatikan kondisi teman, baik fisik atau psikis.




5
2.5.1. Saling membantu teman bila ada kesulitan dalam melakukan gerakan




6
2.6.1Dalam melakukan permainan tidak menguasai lapangan sendiri(berbagi)




7
2.71. Mengikuti peraturan, petunjuk atau arahan yang telah diberikan guru




8
2.8.1.  Berperilaku hidup sehat





Pengsekoran:
 Skor 4 Jika Selalu
 Skor 3 Jika Sering
 Skor 2 Jika Kadang Kadang 
 Skor 1 Jika Jarang

             Nilai Perolehan / Maksimal x 4 = 25 / 32 x 4 = 3,12


No
Nama Peserta Didik
Skor Indikator Sikap Sosial (1 s.d 4)
Jumlah Skor
Nilai
Indikator
1
2
3
4
5
6
7
8
1
Norman
3
4
4
3
2
4
3
2
25
3,12















































































Lampiran 3.A
LEMBARAN SOAL PENILAIAN PENGETAHUAN
KELAS/SEMESTER             :VII/1
TAHUN PELAJARAN          :2015/2016
PERIODE PENILAIAN       :
BUTIR NILAI/KD                  : 3.3. Memahami konsep variasi dan kombinasi keterampilan salah satu nomor atletik (lompat Jauh,lari,lompat,dan lempar)
INDIKATOR                           :
3.3.1 menyebutkan konsep awalan lompat gaya menggantung.
                                                    3.3.2 menyebutkan konsep tolakan lompat gaya menggantung.
                                    3.3.3 menyebutkan konsep saat badan diudara pada lompat gaya menggantung.
                                    3.3.4 menyebutkan konsep mendarat lompat jauh gaya menggantung.
                                    3.3.5 menyebutkaan kombinasi lompat jauh gaya menggantung

INDIKATOR
SOAL
KUNCI JAWABAN
BOBOT SKOR
3.3.1



3.3.2





3.3.3





3.3.4



3.3.5
Sebutkan gerakan awal lompat jauh gaya menggantung.


Sebutkan variasi dan kombinasi dalam lompat jauh




Sebutkan teknik dasar keterampilan lompat jauh gaya menggantung.



Menyebutkan variasi gerak dasar lompat jauh gaya menggantung.

Menyebutkan kombinasi prinsip dasar lompat jauh gaya menggantung
-berdiri posisi melangkah  depan belakang
-kaki paling depan menginjak papan tumpuan
-kaki belakang ditekukkan

- mengambil awalan
 Sebelum melompat.
-berlari sebelum menuju papan tumpuan.
-melakukan gerakan lentingan badan saat di udara.

1.      Melompat tanpa awalan ke pasir
2.      Melompat ke bak pasir mengambil awalan.
3.      Mendarat dengan kedua kaki agak terbuka dan mengeper.

1.      Gerak awalan
2.      Gerak menuju lompatan
3.      Gerak saat menggantung di udara

1.      Berdiri posisi melangkah depan belakang
2.      Kaki paling depan menginjak papan tumpuan
3.      Kaki kanan menghadap arah bak lompatan badan tegak kedua lengan di samping badan

15




30





25





15




15

Pensekoran:
Nilai perolehan/nilai maksimal  x  4 = hasil






















Lampiran 4.A
                                   LEMBAR SOAL PENILAIAN KETERAMPILAN

kELAS/SEMESTER                                 : SMP
TAHUN PELAJARAN                            : 2014 / 2015
PERIODE PENILAIAN                          : 11 -16 November 2014
BUTIR NILAI/KD                                   : 4.3 Mempraktikkan variasi dan kombinasiketerampilan atletik (jaalan cepat,lari ,lompat, dan lempar).
INDIKATOR                                            : 4.3.1 Melakukan variasi prinsip dasar lompat jauh    gaya menggantung
                                    4.3.2 melakukan kombinasi prinsip dasar lompat    jauh gaya menggantung.

INDIKATOR
SOAL
KUNCI JAWABAN/RUBRIK
SKOR



4
3
2
1
4.3.1








4.3.2











Lakukan gaya cara menggambil awalan lompat jauh gaya menggantung.






Lakukan rangkaian gerakkan dasar lompat jauh gaya menggantung.
1.      Awalan langkah mundur 4,6,8,10 langkah dan melangkah kembali ke depan kearah tumpuan
2.      Kaki tumpu tepat menginjak papan tumpuan.

1.      Berdiri posisi melangkah depan belakang kaki paling depan menginjak papan tumpuan (kaki kanan)
2.      Menghadap bak lompat, badan tegak, kedua lengan disamping badan tegak, kedua lengan sisamping badan.





                                    Keterangan
                                    Skor 4 apabila lima kriteria terpenuhi
                                    Skor 3 apabila empat kriteria terpenuhi
                                    Skor 2 apabila tiga kriteria terpenuhi
                                    Skor 1 apabila satu atau dua kriteria terpenuhi

                                    Penskoran : Nialai perolehan / Nilai Maksimal x 4 =



















                                           SKENARIO PEMBELAJARAN SAINTIFIK

KD sikap spiritual     : 3.3 memahami konsep variasi dan kombinasi keterampilan
      Salah satu nomor atletk(lompat Jauh , lari, lompat dan lempar)
1.3           mempraktekkan variasi dan kombinasi keterampilan  atletik( jalan
     cepat, lari , lompat dan lempar) dengan koordinasi yang baik.
INDIKATOR        : 3.3.1 Menyebutkan konsep variasi pada lompat gaya  menggantung.
3.3.2        menyebutkan konsep kombinasi pada lompat gaya menggantung
3.3.3        menyebutkan konsep keterampilan pada lompat gaya menggantung.
3.3.4        Menyebutkan variasi prinsip dasar lompat jauh gaya menggantung.
3.3.5        Menyebutkan kombinasi prinsip dasar lompat jauh gaya menggantung.
4.3.1   Melakukan variasi prinsip dasar lompat jauh gaya menggantung.
4.3.2   Melakukan kombinasi prinsip dasar lompat jauhgaya menggantung.                MATERI : ATLETIK,lompat jauh.
NO
Pendekatan saintifik
Aktivitas pembelajaran
Terintegrasi sikap spiritual dan sikap sosial
01.

















02.



03.
























04






05.
Mengamati

















Menanya



Mencoba
























Menalar






Mengemunikasi



·         Mengamati gerakan awalansambil berjalan.
·         Mengamati awalan sambil berlari.
·         Mengamati tolakkan melewati atas box.
·         Mengamati gerakan langkah menolak.
·         Mengamati gerak melenting diudara lompat jauh gaya menggantung.
·         Mengamati gerak rangkai lompat jauh gaya menggantung.
·         Bagaimana teknik dasar lompat jauh.

·         Apa fungsi teknik dasar lompat jauh bagi tubuh manusia.


·         Siswa melakukan gerakkan pemanasan secara statistik dan dinamis.
·         Siswa melakukan gerak sambilberjalan.
·         Siswa melakukan gerakkan sambil berlari.
·         Siswa melakukan tolakan melewati atas box.
·         Siswa melakukan gerakan melenting diudara.
·         Siswa melakukan gerakan rangkaian dasar lompat jauh.
·         Setiap siswa menemukan kesalahan saat melakukan gerakan sambil berjalan .
·         Menemukan cara utuk melakukan teknik awal sambil berlari.

·         Siswa dapat menemukankesalahan teknik tolakan melewati atas box.



·         Siswa mampu melakukan lompat jauh.

Jujur, disiplin dan percaya diri















Percaya diri,jujur  dan menghargai. Berani, bertanggung jawab



Mandiri,tawakal,percaya diri dan toleransi.






















Sportivitas,percaya diri dan tawakal menghargai dan toleransi.




Percaya diri, jujur, toleransi,kerjasama,tawakal
Sportivitas dan menghargai.
                                                           
LEMBAR KEGIATAN PENGAMATAN

Nama                           :
Kelas/Semester            :
Materi                          : Lompat jauh gaya menggantung

Contreng pada kolom benar atau salah menurut hasil diamati

No
Teknik yang diamati

Benar
Salah
Keterangan
1
Lari dengan secepat-cepatnya




2
Pada saat kaki mengenai papan tumpuan menolak dengan kuat kedepan atas



3
Pada saat badan di udara bandan seperti menggantung



4
Pada saat mendarat berat badan dibawa kedepan











Kamis, Oktober 29, 2015

FAKTOR MECHANICAL DAN METABOLIK OTOT DAN TANGAN SAAT ANGKAT BEBAN

FAKTOR MECHANICAL
DAN  METABOLIK OTOT  DAN TANGAN SAAT ANGKAT  BEBAN

Oleh :
Muharil.S.Pd



ABSTRAK

Latar Belakang: Tentara rutin membawa beban yang cukup besar jarak jauh pada irama tetap. Sementara banyak beban dilakukan pada batang, Tentara biasanya membawa senjata di tangan mereka dan kemungkinan akan menanggung beban tambahan pada lengan mereka di masa depan (misalnya perangkat komunikasi, pelindung tubuh). Permintaan fisiologis membawa beban pada ekstremitas yang jauh lebih tinggi daripada membawa beban dekat sama untuk tubuh, tetapi perubahan dalam mekanika kiprah dan aktivitas otot yang terkait dengan peningkatan ini tidak dipahami dengan baik. Tujuan: Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengembangkan pemahaman yang lebih baik dari perubahan dalam mekanika kiprah dan aktivitas otot yang berkaitan dengan peningkatan yang tidak proporsional dalam biaya metabolik yang berhubungan dengan membawa beban di tangan. Hal ini dilakukan dengan 1) mengukur efek dari kereta tangan beban pada mekanik, energetika dan aktivitas otot, 2) mengevaluasi hubungan antara perubahan variabel mekanik dan otot dan peningkatan biaya metabolik selama berjalan, dan 3) menyelidiki efek dari perubahan frekuensi langkah pada mekanik kiprah, energetika dan aktivitas otot selama pengangkutan tangan beban. Metode: Motion capture, konsumsi oksigen dan aktivitas otot Data diperoleh dari 30 mata pelajaran berjalan di atas treadmill dengan 3 mph di bawah berbagai kombinasi beban besarnya, lokasi beban dan lengan ayun pada frekuensi langkah tertentu. Parameter spatiotemporal, kinematika, koordinasi antara batang dan rotasi pelvis, tingkat metabolisme, dan tingkat aktivitas otot dievaluasi untuk setiap kondisi beban kereta. Hasil: Tangan membawa beban di depan tubuh menggunakan kedua tangan dikaitkan dengan perubahan signifikan dalam mekanika gaya berjalan, aktivitas otot dan biaya metabolik. Perubahan biaya metabolik selama berjalan dengan banyak batang-ditanggung atau tangan dilakukan kecil tampaknya terutama tergantung pada melintang pesawat batang dan panggul kinematika dan posisi anterioposterior dari pusat massa. Individu mampu mempertahankan pola gait stabil dengan perubahan frekuensi langkah, bahkan ketika tangan membawa beban di depan bagasi.

 Kesimpulan: Perubahan biomekanik dan fisiologis yang signifikan terkait dengan tangan membawa beban di depan bagasi dapat menyebabkan kelelahan otot sistemik dan lokal dengan konsekuensi negatif bagi kinerja tugas Soldier. Perubahan mekanik kiprah dan aktivitas otot yang berhubungan dengan lebih dari striding dapat membuat seseorang bertubuh lebih pendek pada peningkatan risiko kelelahan. Hasil studi ini dapat membantu perencana misi dalam membuat estimasi yang lebih baik dari kinerja Soldier bawah kondisi beban kereta yang berbeda dan pengembang sistem di optimal merancang peralatan Soldier dilakukan secara manual. Penelitian selanjutnya diperlukan untuk mengukur kelelahan akibat perubahan biomekanik dan fisiologis yang berhubungan dengan berbagai modus beban kereta dan mengevaluasi dampaknya terhadap kinerja Soldier.


Bab 1
FAKTOR PENYEBAB METABOLIK TANGAN MEMBAWA BEBAN

Pengantar

Tentara turun secara manual membawa beban yang cukup besar dalam waktu lama. Meskipun banyak beban yang dibawa di bagasi atau di ransel, Tentara juga membawa senjata di tangan mereka selama sebagian besar operasi turun. Di masa depan, beban tambahan kemungkinan akan ditanggung di lengan dalam bentuk lengan dipasang perangkat komunikasi dan sistem pelindung tubuh menggabungkan perlindungan ekstremitas. Membawa beban dalam hasil tangan dalam peningkatan proporsional dalam biaya metabolik dibandingkan moda lain dari beban kereta. Peningkatan pengeluaran energi yang terkait dengan membawa beban di tangan bukan pada batang atau kepala telah dilaporkan berkisar dari sekitar 4% menjadi hampir 45% tergantung pada besarnya beban (Abe, et al, 2004; Datta & Ramanathan, 1971; Soule & Goldman, 1969). Peningkatan biaya metabolik negatif dapat mempengaruhi tingkat Prajurit gerakan, mengurangi kesiapan tempur mereka dan menurunkan kinerja mereka pada tugas-tugas penting.
Sebuah meta-analisis dari empat studi pengangkutan barang militer menyimpulkan bahwa biaya metabolisme dan waktu untuk menyelesaikan kursus 3,2 km baik meningkat dengan meningkatnya massa beban dilakukan (Polcyn et al., 2002). Namun, hanya sekitar 40 sampai 50% dari varians dalam dua ukuran dicatat oleh massa beban dilakukan. Hal ini menunjukkan bahwa faktor-faktor lain, seperti distribusi beban, mungkin telah berkontribusi terhadap perbedaan yang diamati dalam biaya metabolisme dan kinerja gerakan. Kelelahan fisik terkait dengan berbaris dengan beban, sampah kereta, dan olahraga tubuh bagian atas telah dilaporkan menurunkan kinerja Soldier pada tugas-tugas penting seperti menembak dan melempar granat. Knapik dkk. (1990) melaporkan penurunan 26% dalam jumlah target hit selama tugas shooting lubang perlindungan didukung dan penurunan 9% di lemparan jarak granat maksimal setelah jalan 20 km berbaris dengan beban 46 kg yang terdiri dari seragam, senjata dan ransel. Selain itu, Tentara melaporkan penurunan semangat dan meningkatkan kelelahan mengikuti pawai jalan. Dalam studi lain, jumlah hits saat syuting tidak didukung menurun 46% setelah melelahkan latihan tubuh bagian atas (Evans et al., 2003). Beras et al. (2000) juga melaporkan decrements dalam akurasi keahlian menembak berikut sampah kereta. Degradasi yang diamati dalam kinerja keahlian menembak yang dikaitkan dengan peningkatan denyut jantung, tremor otot yang digunakan untuk mendukung senjata, dan peningkatan bergoyang postural karena kelelahan otot batang.

Sementara efek biomekanik dan fisiologis beban ransel kereta telah dipelajari secara ekstensif, sedikit kerja telah dilakukan untuk menyelidiki efek dari tangan beban dilakukan pada dinamika kiprah. Membawa beban di tangan tantangan dinamika kiprah normal melalui penambahan berat badan pada beberapa jarak dari pusat tubuh massa (COM), yang diselenggarakan di salah posisi statis di depan bagasi atau berayun dengan gerakan alami lengan. Selain itu, untuk kecepatan tertentu, individu cenderung untuk berjalan pada frekuensi langkah yang meminimalkan biaya metabolisme mereka. Namun, Tentara berbaris di irama tetap oleh setter kecepatan daripada di dipilih sendiri sendiri irama mereka (Departemen Angkatan Darat, 1990). Peningkatan biaya metabolik tangan membawa beban sambil berjalan di irama sub-optimal dapat memiliki dampak yang signifikan pada kemampuan Tentara untuk melakukan tugas yang diperlukan. Oleh karena itu, sebuah studi integratif diperlukan untuk mengidentifikasi perubahan mekanis dan otot yang berhubungan dengan berbagai beban kereta kondisi sehingga mereka dapat dipertanggungjawabkan atau dikurangi dalam perencanaan misi dan desain sistem.

Pengaruh Beban

Beban kereta meningkatkan massa bahwa seseorang harus mendukung dan mengarahkan selama berjalan. Ini menambahkan hasil massal peningkatan pasukan reaksi tanah tiga dimensi (Birrell et al, 2007;.. Harman et al, 2000; Kinoshita, 1985) dan kerja mekanik (Griffin et al,. 2003; Pierrynowski et al, 1981.; Royer & Martin, 2005). Selanjutnya, permintaan metabolik meningkat sebagai beban meningkat dilakukan (Browning et al, 2007;.. Griffin et al, 2003;. Laursen et al, 2000; Legg & Mahanty, 1986;. Pierrynowski et al, 1981;. Quesada et al, 2000; Royer & Martin, 2005; Soule & Goldman, 1969). Ketika beban dilakukan dekat dengan COM tubuh, kenaikan biaya metabolisme bersih tampaknya terutama karena generasi kekuatan otot di kaki sikap (Griffin et al., 2003) dan kenaikan biaya metabolisme kotor secara proporsional dengan beban dilakukan (Bastien et al., 2005).
Efek yang dilaporkan beban kereta pada variabel spatiotemporal bervariasi, tergantung pada kecepatan berjalan dan besarnya dan lokasi beban. Menanggapi permintaan metabolisme meningkat, dipilih sendiri kecepatan berjalan menurun dengan peningkatan beban dilakukan (Knapik et al, 1996;. Singh & Koh, 2009). Pada kecepatan berjalan yang diberikan, frekuensi langkah telah ditemukan meningkat dengan ransel atau beban kereta militer (Harman et al, 2000;. Lafiandra et al, 2003;.. Majumdar et al, 2010; Martin & Nelson, 1986). Namun, ketika beban dilakukan tentang pinggang atau merata pada batang, frekuensi langkah tampaknya tidak terpengaruh (Browning et al, 2007;.. Falola et al, 2000; Griffin et al, 2003.). Sebaliknya, panjang langkah telah dilaporkan baik untuk mengurangi (Birrell & Haslam, 2009; Lafiandra et al, 2003;. Martin & Nelson, 1986) atau tidak terpengaruh (Falola et al, 2000;. Harman et al, 2000;. Kinoshita , 1985; Martin & Nelson, 1986) selama beban kereta. Waktu sikap telah dilaporkan baik peningkatan (Birrell & Haslam, 2010; Birrell et al, 2007;. Kinoshita, 1985) atau tidak terpengaruh (Browning et al, 2007;. Ghori & Luckwill, 1985; Kinoshita, 1985; Martin & Nelson , 1986). Sementara itu, waktu ayunan telah dilaporkan menurun;, mengakibatkan peningkatan persen siklus kiprah menghabiskan mendukung ganda (Birrell & Haslam, 2009 (Ghori & Luckwill, 1985 Knapik et al, 1996.);. Harman et al, 2000; Kinoshita, 1985; Singh & Koh, 2009) Pengaruh Beban Lokasi
Biaya metabolisme diminimalkan ketika beban dilakukan dekat dengan COM tubuh (Browning et al, 2007;. Datta & Ramanathan, 1971; Legg & Mahanty, 1986; Royer & Martin, 2005). Konsumsi oksigen kotor ditemukan meningkat 44% selama berjalan dengan 30 kg dibagi antara tangan dibandingkan dengan membawa beban yang setara dalam paket ganda (Datta & Ramanathan, 1971). Peningkatan yang signifikan dalam tingkat metabolisme juga telah dilaporkan untuk membawa beban pada ekstremitas bawah, terutama pada kaki (Abe et al, 2004;.. Browning et al, 2007; Legg & Mahanty, 1986). Namun, biaya-massa jenis transportasi tampaknya relatif tidak terpengaruh ketika beban kecil dilakukan secara bilateral di tangan (Abe et al, 2004;.. Laursen dkk, 2000; Soule & Goldman, 1969).
Membawa beban di tangan daripada merata pada batang efektif menggeser lokasi sistem COM. Kedua massa dan momen inersia (MOI) dari lengan meningkat ketika beban dilakukan dibagi antara tangan dan lengan yang diizinkan untuk melenggang bebas. Dalam hal ini, lokasi anterioposterior COM harus sama dengan yang selama bagasi kereta, tapi lebih dekat ke tanah. Berjalan dengan beban yang diadakan di depan tubuh dengan lengan dalam posisi tetap efektif meningkatkan massa lengan tetapi mengurangi MOI. Dalam hal ini, lokasi COM tubuh akan berada pada ketinggian yang sama tetapi anterior dengan yang bagasi kereta.
Waktu Stride, telah dilaporkan untuk tidak terpengaruh oleh beban 20% BW tangan unilateral dilakukan (Ghori & Luckwill, 1985) atau menambahkan berat ke lengan tepat di atas siku (Pontzer et al., 2009). Waktu sikap lebih besar ketika membawa beban di ransel bukan pada batang (Birrell et al, 2007;. Kinoshita, 1985) mungkin karena peningkatan waktu yang dibutuhkan untuk membawa COM dikombinasikan dalam basis dukungan (Birrell et al ., 2007). Orang mungkin mengharapkan efek sebaliknya dengan pergeseran anterior COM, dan penurunan diamati dalam waktu sikap ketika membawa beban kotak 6.8kg di depan tubuh menggunakan kedua tangan (Cham & Redfern, 2004) tampaknya mendukung ide ini. Namun, membawa beban hingga 15% BW secara sepihak di tangan tampaknya memiliki
tidak berpengaruh pada waktu sikap (Ghori & Luckwill, 1985). Laporan tentang pengaruh tangan dilakukan beban pada panjang langkah dicampur. Membawa beban kotak 6.8kg dengan kedua tangan pada kecepatan diri karena telah tidak berpengaruh pada panjang langkah (Cham & Redfern, 2004) sementara beban kotak BW 20% dilakukan pada 1,33 m / s menurun panjang langkah sekitar 4% dibandingkan dengan kondisi awal (Myung & Smith, 1997). Penurunan kecil tapi non¬significant panjang langkahnya, bersama dengan peningkatan frekuensi langkah, juga telah ditemukan selama satu tangan senapan kereta dibandingkan dengan beban setara dibawa dalam paket pinggang (Majumdar et al., 2010).
Tidak seperti beban ransel kereta, membawa senapan di kedua tangan tampaknya tidak berpengaruh pada besarnya thorax atau rotasi panggul, tetapi tidak mengakibatkan penurunan fase relatif antara rotasi (Seay et al., 2011). Batang fleksi meningkat dengan meningkatnya beban ransel (Attwells et al, 2006;. Birrell & Haslam, 2009; Kinoshita, 1985; Knapik et al, 1996;. Majumdar et al, 2010;. Singh & Koh, 2009) tetapi efeknya kurang dramatis ketika beban dilakukan dalam paket ganda (Kinoshita, 1985). Sebaliknya, membawa beban di tangan dengan lengan dalam posisi tetap di depan hasil bagasi di bagasi belakang ramping (Anderson et al, 2007;. Cham & Redfern, 2004). Ketika beban berat yang dilakukan, fase sikap fleksi lutut meningkat terlepas dari apakah beban di ransel (Harman et al, 2000;. Kinoshita, 1985; Majumdar et al, 2010;.. Quesada et al, 2000), pak ganda (Kinoshita, 1985) atau tangan (Cham & Redfern, 2004; Ghori & Luckwill, 1985;. Majumdar et al, 2010). Namun, tangan kecil dan pinggang dilakukan beban tampaknya tidak berpengaruh pada ekstremitas bawah sudut sendi (Majumdar et al., 2010). Impuls-lateral Medio juga meningkat selama senapan kereta (Birrell & Haslam, 2008; Myung & Smith, 1997), mungkin menunjukkan penurunan
stabilitas atau kebutuhan untuk peningkatan kontrol postural karena meningkatnya kunjungan horizontal COM (Birrell & Haslam, 2008).

Pengaruh Arm swing Restriction

Swing arm selama berjalan adalah "bagian integral dari dinamika perkembangan" (Elftman, 1939) yang tanpa kemampuan untuk maju dalam garis lurus dipengaruhi (Inman dkk., 1981). Lengan umumnya ayunan dalam arah yang berlawanan dari kaki (Eke-Okoro et al., 1997), menangkal rotasi dan gerakan batang bawah dan kaki (Ballesteros dkk., 1965). Ini meminimalkan seluruh rotasi tubuh dan momentum sudut (Collins et al, 2009;. Elftman, 1939;. Lafiandra et al, 2003;. Ortega et al, 2008) dan mengurangi saat reaksi tanah vertikal (Collins et al, 2009.). Hal ini juga berpikir untuk meningkatkan stabilitas, mengurangi vertikal (Collins et al., 2009) dan lateral (Ortega et al., 2008) perpindahan dari COM tanpa perlu kekuatan otot meningkat batang atau penyesuaian lebar langkah (Ortega et al. 2008). Akibatnya, biaya metabolisme diminimalkan.
Pembatasan lengan ayun dilaporkan meningkatkan pengeluaran energi bersih sekitar 5 sampai 7% (Collins et al, 2009;. Ortega et al, 2008;. Umberger, 2008). Ini juga telah menemukan bahwa peningkatan ini dapat diatasi dengan penambahan stabilisasi lateral yang eksternal (Ortega et al., 2008), sehingga mendukung peran lengan ayun dalam memberikan stabilitas lateral. Namun, perjalanan lateral dan vertikal COM dilaporkan tidak terpengaruh ketika lengan diadakan di sisi selama berjalan (Collins et al., 2009) menunjukkan bahwa mekanisme lain yang digunakan untuk melawan hilangnya stabilitas yang terkait dengan lengan fiksasi. Lebar langkah dan lebar variabilitas langkah juga dilaporkan menjadi berubah ketika lengan disilangkan selama berjalan (Ortega et al., 2008), oleh karena itu peningkatan aktivitas otot kemungkinan bertanggung jawab untuk menjaga konsisten COM pesiar.

Dalam sebuah studi oleh Eke-Okoro dan rekan (1997), lengan fiksasi menyebabkan penurunan diri karena kecepatan berjalan karena peningkatan frekuensi langkah yang cukup untuk mengatasi penurunan panjang langkah. Namun, dalam studi lain (Pontzer et al., 2009) melintasi lengan pada kecepatan berjalan tetap ditemukan tidak berpengaruh pada waktu langkah atau waktu sikap. Penelitian yang sama menemukan bahwa melintasi lengan tidak berpengaruh pada rotasi bahu, tetapi tidak menyebabkan pengurangan perbedaan fase antara bahu dan rotasi pelvis selama berjalan. Lengan fiksasi juga tampaknya tidak berpengaruh pada kinematika ekstremitas bawah (Umberger, 2008). Sehubungan dengan kinetika, saat bebas vertikal dilaporkan meningkat dengan lengan fiksasi (Collins et al, 2009;. Li et al, 2001;. Umberger, 2008), kemungkinan besar untuk melawan peningkatan seluruh tubuh momentum sudut yang dihasilkan dari perubahan bidang transversal. Vertikal reaksi tanah puncak kekuatan dampak dan puncak pengereman dan pasukan pendorong juga telah dilaporkan meningkat dengan lengan fiksasi (Birrell & Haslam, 2008). Pengaruh Stride Frekuensi Manipulasi
Telah berulang kali menunjukkan bahwa frekuensi langkah yang lebih disukai (PSF) yang diadopsi oleh individu selama diturunkan berjalan adalah salah satu yang sesuai dengan biaya metabolisme minimal (Falola et al, 2000;.. Minetti et al, 1995; Umberger & Martin, 2007). Ini titik biaya metabolik minimal telah lebih jauh telah diusulkan terjadi sebagai keseimbangan antara fisiologis dan stabilitas kendala (Holt et al., 1995) dan antara kerja mekanik dilakukan oleh kaki dan efisiensi melakukan pekerjaan yang (Umberger & Martin, 2007) . Berjalan di langkah frekuensi selain PSF untuk kecepatan tertentu diduga menyebabkan perubahan dalam tingkat kerja mekanik yang terkait dengan gerakan COM tubuh (Minetti et al., 1995) yang berkontribusi terhadap peningkatan biaya metabolik.

Beberapa studi telah meneliti perubahan mekanik kiprah terkait dengan berjalan pada frekuensi langkah yang berbeda. Efek melaporkan pada ekstremitas bawah sudut sendi yang bertentangan (Gomes et al, 2011;. Umberger & Martin, 2007). Sebagai frekuensi meningkat langkahnya, besarnya batang dan panggul rotasi berkurang dan mereka menjadi lebih di-fase dengan satu sama lain (Huang et al., 2010). Puncak pengereman dan pasukan pendorong tampaknya meningkat karena penurunan frekuensi langkah (Gutekunst et al, 2010;. Umberger & Martin, 2007). Efek manipulasi frekuensi langkah selama beban kereta dinilai dalam studi tunggal (Falola et al., 2000). Kecepatan berjalan penuh semangat optimal selama berjalan dengan 10% BW bagasi beban bertekad untuk menjadi lebih rendah dari diturunkan berjalan, tapi PSFs dengan kecepatan berjalan penuh semangat optimal untuk setiap kondisi yang serupa. Selain itu, pada kecepatan tertentu, biaya energi sangat minim di PSF untuk setiap kondisi. Disarankan bahwa kriteria optimasi yang berbeda digunakan untuk memilih PSF selama dimuat berjalan, dan bahwa pola gaya berjalan selama beban kereta mungkin karena adanya peningkatan stabilitas daripada biaya metabolisme minimal.

Kegiatan otot

Sementara tubuh besar literatur ada untuk efek beban kereta dan lengan ayun pada mekanik kiprah dan energetika, beberapa studi eksis mengenai efek mereka pada batang dan aktivitas otot pinggul selama berjalan, terutama dengan beban. Sehubungan dengan aktivitas otot trunk, Motmans dkk. (2006) mengevaluasi efek dari berdiri dengan beban BW 15% di berbagai kemasan pada rektus abdominus (RA) dan lumbar erector spinae (LES) aktivitas. Mereka menemukan peningkatan signifikan dalam aktivitas RA saat beban itu dalam ransel, tapi itu tidak terpengaruh selama pack depan dan kondisi pack ganda. Kegiatan LES meningkat secara signifikan saat beban berada di depan pak, tidak terpengaruh selama kondisi pak ganda, dan menurun ketika beban berada di ransel. Oleh karena itu, besarnya kembali dan aktivitas otot perut saat berdiri tampaknya terkait erat dengan distribusi beban pada batang. Namun, hasil ini tidak memberikan wawasan tentang dampak dari lokasi beban selama berjalan. Selama berjalan, aktivitas di spinae erector ditandai dengan semburan aktivitas di tumit mogok untuk melawan fleksi ke depan dari bagasi (Anders et al, 2007;. Waters & Morris, 1972). Tampaknya mungkin bahwa besarnya semburan ini akan meningkatkan dan bahwa beberapa tingkat aktivasi konstan juga akan hadir di seluruh siklus kiprah saat beban dilakukan di depan tubuh. Sebuah studi tunggal melaporkan peningkatan yang signifikan rata-rata fase sikap aktivitas spinae lumbal erector selama pengangkutan tangan dari beban box (Cook & Neumann, 1987). Obliques eksternal (OEA) yang aktif selama berdiri rotasi trunk (McGill, 1991) dan hanya sebelum mogok tumit selama berjalan (Anders et al., 2007). Orang mungkin mengharapkan untuk melihat perubahan aktivitas OEA di tanggapan terhadap perbedaan dalam koordinasi batang-panggul; Namun, kelompok otot ini tidak tampaknya telah dipelajari dalam literatur beban kereta. Jika stabilitas lateral dipengaruhi oleh beban kereta dan pembatasan lengan ayun, kemudian berubah di gluteus medius (GMED) aktivitas mungkin juga diharapkan. Peningkatan aktivitas GMED rata telah dilaporkan meningkat ketika beban tangan dilakukan secara bilateral (Neumann et al., 1992) atau terhadap dada (Neumann & Cook, 1985). Peningkatan paha rata dan aktivitas gastrocnemius telah dilaporkan terjadi dengan beban militer meningkat 20-47 kg (Harman et al., 2000), tetapi efek dari tangan dilakukan beban pada aktivitas otot kaki belum dilaporkan.
Efek manipulasi frekuensi langkah pada aktivitas otot kaki juga telah dipelajari sampai batas tertentu. Peningkatan aktivitas rata-rata fleksor pinggul dan ekstensor dan dorsiflexors pergelangan kaki telah dilaporkan terjadi dengan meningkatnya langkahnya
frekuensi dan kecepatan berjalan (Yang & Musim Dingin, 1985). Penurunan frekuensi langkah tampaknya menyebabkan peningkatan aktivitas yang terintegrasi dari plantarflexors pergelangan kaki (Sanderson et al., 2008). Namun, perubahan aktivitas leg otot dengan manipulasi frekuensi langkah selama pengangkutan tangan beban tidak diketahui.

Arti Sejumlah besar literatur dikhususkan untuk efek biomekanik dan fisiologis beban kereta, tetapi efek khusus pengangkutan tangan beban sebagian besar telah diabaikan. Dari literatur yang ada jelas bahwa penambahan beban, lokasi beban yang, dan pembatasan lengan ayun semua berkontribusi untuk peningkatan biaya metabolik selama berjalan. Namun, perubahan dalam mekanika kiprah dan aktivitas otot yang berhubungan dengan faktor-faktor individu yang tidak jelas dan sedikit kerja telah dilakukan untuk berhubungan perubahan tersebut satu sama lain dan dengan kenaikan diamati dalam pengeluaran energi. Sementara studi yang menguji efek dari manipulasi frekuensi langkah pada tenaga mesin dan metabolik telah dilakukan untuk dibongkar berjalan, hanya studi tunggal telah mengevaluasi efek pada batang-panggul koordinasi dan penelitian serupa untuk dimuat berjalan tampaknya tidak ada. Ada juga tampaknya menjadi sangat sedikit data untuk aktivitas otot trunk selama berbagai kondisi beban kereta yang tersedia di literatur yang ada. Potensi perubahan mekanik kiprah dan aktivitas otot yang berhubungan dengan kereta tangan beban dapat menyebabkan peningkatan kelelahan otot sistemik dan lokal, yang dapat menyebabkan degradasi kinerja tugas Soldier. Melakukan studi komprehensif dari efek beban besarnya, lokasi beban, dan lengan pembatasan ayun pada mekanik kiprah, energetika dan aktivitas otot akan memberikan wawasan ke dalam perubahan dalam mekanika kiprah dan aktivitas otot yang terkait dengan peningkatan biaya metabolik selama pengangkutan tangan beban, sementara juga mengisi beberapa kesenjangan dalam beban yang ada literatur kereta. Memahami perubahan yang mendasari dalam mekanika dan aktivitas otot yang terkait dengan peningkatan biaya metabolisme akan membantu desainer sistem dalam memproduksi peralatan Soldier yang minimal menurunkan kinerja misi. Hal ini juga akan menyediakan perencana misi dengan perkiraan yang lebih akurat dari efek berbagai konfigurasi beban pada kinerja Soldier.

Tujuan dan Hipotesis
Tujuan keseluruhan dari penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi perubahan dalam mekanika kiprah dan aktivitas otot yang berkaitan dengan peningkatan yang tidak proporsional dalam biaya metabolik yang berhubungan dengan membawa beban di tangan dengan mengukur efek dari beban besarnya, lokasi beban dan lengan pembatasan ayunan pada mekanik, energetika dan aktivitas otot selama berjalan pada berbagai frekuensi langkah.
Tujuan 1. Mengukur efek beban besarnya, lokasi beban dan lengan ayun pembatasan pada mekanik kiprah, energetika dan aktivitas otot.
Hipotesis 1.1. Tingkat metabolisme gross-massa tertentu selama trunk beban pengangkutan akan mirip dengan kondisi diturunkan, tetapi meningkat dengan kereta tangan dan / atau pembatasan lengan ayun.
Hipotesis 1.2. Selain itu beban, pembatasan lengan ayun, dan kereta tangan beban akan mengganggu koordinasi antara batang dan pelvis rotasi dan semakin meningkatkan aktivitas otot batang kumulatif.
Hipotesis 1.3. Kegiatan penculik pinggul akan meningkat selama lengan ayun pembatasan dan tangan pengangkutan beban sementara lebar langkah dan perjalanan lateral pusat massa tidak terpengaruh.
Hipotesis 1.4. Membawa beban di tangan dengan lengan dalam posisi tetap akan mengakibatkan penurunan waktu sikap, peningkatan frekuensi langkah dan peningkatan kembali aktivitas otot.
Hipotesis 1.5. Membawa beban di tangan dengan lengan ayun akan menghasilkan peningkatan rotasi panggul, meningkatkan panjang langkah, dan penurunan frekuensi langkah pada kecepatan set berjalan.
Tujuan 2. Evaluasi hubungan antara perubahan mekanik dan aktivitas otot dan peningkatan biaya metabolik.
Hipotesis 2.1. Panggul rotasi besarnya akan terkait untuk melangkah frekuensi dan panjang langkah.
Hipotesis 2.2. Waktu sikap dan batang ramping akan berkorelasi dengan lokasi horisontal sistem COM, dan aktivitas otot punggung bawah akan meningkat dengan batang lebih terbelakang ramping.
Hipotesis 2.3. Koordinasi batang-panggul akan dikaitkan dengan peningkatan kembali dan aktivitas miring eksternal, dan aktivitas miring eksternal akan meningkat dengan meningkatnya rotasi trunk.
Hipotesis 2.4 Perubahan biaya metabolik akan berkaitan dengan perubahan trunk- panggul koordinasi, frekuensi langkah dan aktivitas otot batang Bertujuan 3. Menyelidiki efek dari manipulasi frekuensi langkah pada mekanik kiprah, energetika dan aktivitas otot selama beban tangan kereta.
Hipotesis 3.1. Biaya metabolisme akan diminimalkan pada frekuensi langkah yang lebih disukai (PSF) untuk kondisi beban yang diberikan dan PSF akan lebih besar untuk beban tangan daripada kondisi diturunkan.
Hipotesis 3.2. Tangan membawa beban pada frekuensi langkah meningkat akan membutuhkan penurunan panjang langkah, yang menyebabkan penurunan rotasi panggul dan gangguan koordinasi batang-panggul.
Hipotesis 3.3. Tangan membawa beban pada frekuensi langkah menurun akan menghasilkan peningkatan panjang langkah dan penurunan ganda waktu dukungan, yang mengarah ke peningkatan kunjungan vertikal dan lateral COM dan peningkatan aktivitas otot batang.

Bab 2
PENGARUH BEBAN BESARAN, LOAD LOKASI DAN ARM SWING PEMBATASAN PADA MEKANIKA GAIT, energetika DAN AKTIVITAS OTOT SELAMA WALKING
Pengantar

Orang melakukan berbagai tugas beban kereta setiap hari: misalnya, membawa secangkir kopi di satu tangan, buku sekolah di ransel atau tas belanjaan di kedua lengan. Kegiatan industri, militer dan rekreasi tertentu melibatkan membawa beban yang cukup besar selama periode diperpanjang. Sementara beban ini umumnya dilakukan di ransel atau didistribusikan melalui batang tubuh, mereka juga dapat tangan dilakukan. Selain itu, tangan membawa beban dapat melibatkan penggunaan kedua tangan untuk membawa satu objek, yang mengarah ke pembatasan lengan ayun alam yang terjadi selama diturunkan berjalan. Beban kereta membutuhkan seorang individu untuk mendukung dan mempercepat massa tambahan yang terletak agak jauh dari pusat tubuh massa (COM) dengan tetap mempertahankan gaya berjalan stabil. Sejauh mana dinamika gaya berjalan normal ditantang selama beban kereta tergantung pada massa beban, di mana ia dilakukan dan apakah lengan ayun alami atau berada dalam posisi tetap. Meskipun keberadaan tubuh besar literatur yang didedikasikan untuk memuat kereta, dampak dari faktor individu pada mekanik kiprah, energetika dan aktivitas otot tidak dipahami dengan baik.
Biaya metabolik selama beban kereta meningkat dari yang diturunkan berjalan, dengan besarnya kenaikan tergantung pada massa beban dan cara di mana itu dilakukan. Ketika beban dilakukan dekat dengan COM tubuh, biaya metabolik diminimalkan (Browning et al, 2007;. Datta & Ramanathan, 1971; Legg & Mahanty, 1986; Royer & Martin, 2005). Kenaikan biaya metabolik kotor juga sebanding dengan massa beban ini (Abe et al, 2004;.. Bastien et al, 2005). Membawa beban pada ekstremitas bawah, terutama pada kaki, hasil dalam peningkatan yang signifikan dalam tingkat metabolisme (Abe et al, 2004;.. Browning et al, 2007; Legg & Mahanty, 1986). Namun, beban kecil dilakukan secara bilateral di tangan tampaknya tidak banyak berpengaruh pada biaya-massa jenis transportasi (Abe et al, 2004;.. Laursen dkk, 2000; Soule & Goldman, 1969). Independen, pembatasan lengan ayun dilaporkan meningkatkan pengeluaran energi bersih dengan 5 sampai 7% (Collins et al, 2009;. Ortega et al, 2008;. Umberger, 2008); Namun, efek gabungan dari tangan dilakukan beban dan pembatasan lengan ayun tidak diketahui.
Perubahan mekanik kiprah juga tampak tergantung pada modus beban pengangkutan dan besarnya beban yang terlibat. Dipilih sendiri kecepatan berjalan berkurang sebagai massa beban meningkat dilakukan (Knapik et al, 1996;. Singh & Koh, 2009). Tergantung pada kecepatan berjalan dan massa beban, ransel dan beban kereta militer umumnya menyebabkan penurunan panjang langkah dan peningkatan frekuensi langkah dan periode dukungan ganda (Birrell & Haslam, 2009;. Harman et al, 2000; Lafiandra et al. 2003; Kinoshita, 1985). Penurunan panjang langkah juga tampak terkait dengan kereta tangan beban kotak BW 20% (Myung & Smith, 1997). Membatasi independen lengan ayun beban kereta tampaknya tidak berpengaruh pada waktu sikap (Pontzer et al., 2009), waktu langkah (Bruijn et al., 2010), sikap persen (Dedieu & Zanone, 2011) atau lebar langkah (Ortega et al., 2008).

Selama beban kereta, penyesuaian postural mungkin diperlukan untuk menjaga sistem COM dalam basis dukungan. Beban ransel menyebabkan peningkatan maju batang fleksi (Attwells et al, 2006;. Birrell & Haslam, 2009; Kinoshita, 1985; Knapik et al, 1996;. Majumdar et al, 2010;. Singh & Koh, 2009) dan batang mundur ramping dikaitkan dengan membawa beban di depan bagasi (Anderson et al, 2007;. Cham & Redfern, 2004). Namun, beban merata pada batang memiliki pengaruh yang kecil pada batang fleksi (Kinoshita, 1985). Gerak dari sistem COM selama berjalan dengan beban relatif tidak dikenal. Ia telah mengemukakan bahwa kunjungan vertikal COM selama kereta ransel berat diminimalkan dengan peningkatan fleksi lutut (Birrell & Haslam, 2009) dan bahwa COM pesiar lateral yang mungkin terjadi selama senapan kereta karena penurunan stabilitas lateral (Birrell & Haslam 2008) tapi tidak tampaknya telah diukur. Namun, lengan ayun pembatasan selama diturunkan berjalan dilaporkan tidak berpengaruh pada perjalanan vertikal COM (Collins et al., 2009).

Sehubungan dengan kinematika batang, rotasi pesawat melintang dari dada dan panggul dilaporkan menurun dengan beban ransel kereta (Birrell & Haslam, 2009; Knapik et al, 1996;.. Lafiandra et al, 2003;. Sharpe et al, 2008) . Sebaliknya, pembatasan lengan ayun selama diturunkan berjalan (Pontzer et al., 2009) atau membawa senapan diturunkan di kedua tangan (Seay et al., 2011) tampaknya tidak berpengaruh pada besarnya rotasi trunk. Berjalan dengan massa kecil ditambahkan ke lengan juga tidak berpengaruh nyata pada rotasi trunk (Pontzer et al., 2009). Selama dibongkar berjalan rotasi ini keluar dari fase, tetapi menjadi lebih dalam fase dengan beban ransel berat badan 40% (Inman et al, 1981.) (Lafiandra et al, 2003;.. Sharpe et al, 2008), senapan kereta ( . Seay et al, 2011) dan berjalan dengan lengan disilangkan di atas dada (Dedieu & Zanone, 2011; Pontzer et al, 2009).. Pembobotan bilateral lengan, bagaimanapun, tampaknya tidak berpengaruh pada perbedaan fasa antara panggul dan rotasi bahu (Pontzer et al., 2009).
Gangguan koordinasi normal antara dada dan pelvis rotasi selama hasil beban kereta di peningkatan momentum sudut seluruh tubuh (Lafiandra et al., 2003) yang kemungkinan meningkatkan permintaan otot melintang di pesawat. Mengingat perubahan diketahui atau diasumsikan dalam mekanika kiprah terkait dengan beban kereta dan tindakan otot individu selama diturunkan berjalan, orang mungkin mengharapkan untuk melihat perbedaan dalam erector spinae, obliques eksternal dan aktivitas gluteus medius. Sebuah studi tunggal (Cook & Neumann, 1987) mengevaluasi efek dari penempatan beban pada aktivitas otot punggung bawah dan menemukan peningkatan yang signifikan dalam aktivitas spinae lumbal erector ketika subjek membawa kotak sama dengan 10% BW. Kegiatan penculik pinggul telah dilaporkan meningkat dengan beban BW 10% dilakukan di belakang, diadakan terhadap dada atau membagi bilateral antara tangan (Neumann & Cook, 1985; Neumann et al, 1992.). Namun, efek dari berbagai modus beban kereta pada aktivitas otot batang lainnya selama berjalan belum dievaluasi.
Sementara efek ransel dilakukan beban pada mekanik kiprah dan energetika telah dipelajari secara ekstensif, pengaruh mode lain beban kereta belum. Biaya metabolik telah ditemukan meningkat dengan pemuatan lebih distal atau pembatasan lengan ayun; Namun, perubahan terkait dalam mekanika kiprah dan aktivitas otot tidak dipahami dengan baik. Oleh karena itu, tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengevaluasi efek independen dan gabungan dari beban besarnya, lokasi beban dan lengan ayun pada mekanik kiprah, energetika dan aktivitas otot selama berjalan.
Itu adalah hipotesis bahwa tingkat metabolisme-massa tertentu akan meningkat dengan kereta tangan beban dan / atau pembatasan lengan ayun. Penambahan beban dilakukan, pembatasan lengan ayun dan kereta tangan beban diharapkan mengganggu melintang pesawat batang-panggul koordinasi dan semakin meningkatkan aktivitas otot batang kumulatif. Itu diantisipasi bahwa membawa beban di tangan dengan lengan dalam posisi tetap akan mengakibatkan penurunan dalam waktu sikap dan peningkatan frekuensi langkah, aktivitas otot punggung dan aktivitas penculik pinggul sementara lebar langkah dan perjalanan lateral pusat massa akan terpengaruh. Akhirnya, peningkatan rotasi panggul dan panjang langkah dan penurunan frekuensi langkah yang diharapkan terjadi saat beban dilakukan di tangan dengan berayun lengan.
Metode
Subyek. Sampel perhitungan ukuran apriori dilakukan pada data tingkat metabolisme yang diperoleh selama uji coba menggunakan kalkulator online untuk ukuran efek dan ukuran sampel (http://danielsoper.com/statcalc3). Ukuran efek dari kenaikan 10% di tingkat metabolisme bertekad untuk menjadi 0,96. Sebuah ukuran sampel minimal 13 mata pelajaran dihitung untuk uji satu sisi dengan tingkat kekuatan statistik yang diinginkan dari 0,8 dan a = 0,05. Data dikumpulkan selama lima belas laki-laki, direkrut dari penduduk sipil dan militer di dalam dan sekitar Aberdeen Proving Ground, MD (4 CIV / 11 MIL, usia: 28,9 ± 6,0 tahun, tinggi: 1,77 ± 0,07 m, dan massa tubuh: 88,2 ± 14,5 kg). Semua mata pelajaran yang dilaporkan sendiri bahwa mereka bebas dari kardiovaskular, muskuloskeletal atau ekstremitas masalah yang mungkin mengganggu kemampuan mereka untuk menyelesaikan protokol beban kereta dalam penelitian ini. Sebelum pengumpulan data, masing-masing subjek membaca dan menandatangani formulir informed consent disetujui oleh University of Delaware Manusia Subyek Review Board (Lampiran A). Subyek mengenakan sepatu atletik mereka sendiri, t-shirt dan celana pendek.
Kondisi percobaan. Dua tingkat beban besarnya (MAG: tidak ada beban, 8% massa tubuh), dua tingkat lokasi beban (LOC: batang, tangan) dan dua tingkat lengan ayun (ARMS: ayun, tetap) dievaluasi dalam penelitian ini, sehingga total enam kondisi percobaan (Tabel 2.1). Urutan di mana kondisi eksperimental
disajikan untuk masing-masing subjek secara acak dan diimbangi dengan menggunakan desain persegi Latin.
Total beban yang dibawa oleh masing-masing subjek dihitung berdasarkan massa tubuh diukur mereka. Distribusi beban untuk setiap kondisi beban kereta ditunjukkan pada Gambar 2.1. Selama kondisi batang kereta, bobot pasir secara merata dibagi antara dua kantong, salah satunya melekat pada harness nilon di atas sistem K4B di dada subjek dan yang lain untuk memanfaatkan nilon di atas sistem EMG di punggung mereka. Selama kondisi kereta tangan di mana lengan diizinkan untuk ayunan alami, subjek dilakukan satu kantong di masing-masing tangan. Untuk pengangkutan tangan dengan lengan fiksasi percobaan, bobot pasir ditempatkan dalam kantong dan aman melekat pada tengah tertimbang bar yang solid untuk mencapai total beban yang diinginkan. Sebuah tabung busa yang sama panjang dan diameter ke bar tertimbang dilakukan selama kereta diturunkan dan batang dengan uji lengan fiksasi.




Magister Pendidikan Olahraga Unsyiah 2014 FC


Senin, Oktober 26, 2015

Perselingkuhan Lorenzo Dengan Marquez di Sirkuit Sepang Malaysia 2015

Race Director Selidiki Dugaan Kongkalikong Marquez-Lorenzo

Pihak penyelenggara MotoGP, Dorna melalui Race direction telah menjatuhkan penalti tiga poin ke pebalap Movistar Yamaha, Valentino Rossi atas insiden di Sepang.
Hal ini membuat The Doctor mengoleksi total empat poin penalti dan harus start di posisi paling belakang di seri akhir yang menentukan di Valencia.
Namun, race direction tak cuma berhenti pada hukuman penalti ke Rossi. Dilansir laman facebook, MotoGP Indonesia, pihak Dorna Melalui race direction melayangkan surat panggilan untuk Marc Marquez dan Jorge Lorenzo atas tindak lanjut investigasi terkait kasus dugaan kongkalikong di antara keduanya.
Disebutkan, kecurigaan muncul saat melihat tayangan ulang melalui beberapa kamera terlihat Marc Marquez memberikan jalan kepada Jorge Lorenzo.
Dugaan adanya kongkalikong antara dua pebalap Spanyol meski berbeda tim ini juga muncul atas fakta setelah Jorge Lorenzo melewati Marc Marquez, jarak waktu antara Marquez dan Lorenzo mencapai 2,60"/sec dalam rentang putaran 1 lap.
"Terlihat jelas oleh race direction bahwa kedua pembalap harusnya membutuhkan 3 sampai 4 lap putaran untuk membubuhkan jarak 2,60"/sec. Jika kecepatan kedua pembalap selisih +0.781 pada balapan di Sepang Malaysia," tulis laman MotoGP Indonesia.
Rupanya, race direction juga menindaklanjuti aduan dari kubu Rossi saat seri Phillip Island, Australia yang menuding Marquez memang membantu Lorenzo dalam perebutan gelar juara dunia. Berikut tulisan dan analisis lengkap dari race direction atas kejadian di Sepang:

Tindak lanjut ini juga merujuk pada analisa data elektronik yang dilakukan oleh Pembalap Valentino Rossi pada pekan lalu di Phillip Island dimana Marc Marquez mencatat waktu tercepat di lap 14 hingga lap 20-an namun ia masih berkutit di posisi tiga dan mengacak racing line pembalap lain padahal ia sudah mampu melewati Lorenzo dengan GAP di atas +1.00 lebih dengan rata-rata kecepatan 3 pembalap terbawah tanpa Lorenzo.
Hal ini semakin jelas terlihat pada analisa data elektronik Power mesin dan penggunaan Breake yang di lakukan dan kalkulasi waktu/putaran antara lorenzo dan Marquez di Sepang Malaysia, saat berlangsung sesi FP1 sampai F4 Valentino Rossi bukannya tak mencatat waktu baik hingga tercecer di atas posisi 6.
Ia sengaja memperlambat kecepatan motornya agar ia bisa memantau kinerja dan Kecepatan waktu antara Marquez dan Lorenzo pada Komputer. Dimana kecurigaan Valentino Rossi akan datanya di komputer berbeda yang membuktikan bahwa dugaan adanya kerjasama Marquez dalam menghambat kecepatannya mengejar Lorenzo nanti saat balapan.
Menilik data yang mencurigakan ini, pihak Dorna melalui Race director telah melayangkan panggilan kepada Lorenzo dan Marc Marquez untuk mengelarifikasi hal tersebut agar fair dan tidak terjadi kecurangan atau usaha sepihak membantu salah satu pembalap dalam perebutan Gelar Juara dunia. Hal ini tentu akan mempengaruhi sportifitas Olahraha dalam dunia motorsport, rating dan kerugian sponsor akibat tidak adanya persaingan sehat dalam perebutan gelar.

Senin, Oktober 12, 2015

CARA BERMAIN HADANG (bahasa Aceh : "Tak Tak Galah" )

CARA BERMAIN HADANG
(bahasa Aceh : "Tak Tak Galah" )
Oleh : Muharil

 Hadang(tak tak galah) yang termasuk salah satu permainan tradisional Indonesia yang juga dimainkan di negara lain sangatlah sederhana. Biasanya permainan ini dimainkan pada saat jam istirahat sekolah, pada sore hari di lingkungan tinggal masyarakat dan tentu saja permainan yang gemar dimainkan oleh anak-anak ini bisa juga untuk melatih berbagai kecakapan keterampilan pada diri anak terutama untuk fisik tubuh anak.



Di Indonesia sendiri  Hadang memiliki nama tersendiri di setiap daerah di Indonesia, akan tetapi tetap pada aturan dan cara bermain yang sama.seperti di aceh permainan hadang dikenal dengan nama  "tak tak galah "
Permainan ini biasanya dimainkan di lapangan bulu tangkis dengan acuan garis-garis yang ada atau bisa juga dengan menggunakan lapangan segiempat dengan ukuran 9 x 4 m yang dibagi menjadi 6 bagian. Garis batas dari setiap bagian biasanya diberi tanda dengan kapur. Tata cara bermain HADANG adalah anggota grup yang mendapat giliran untuk menjaga lapangan ini terbagi dua, yaitu anggota grup yang menjaga garis batas horisontal dan garis batas vertikal. Bagi anggota grup yang mendapatkan tugas untuk menjaga garis batas horisontal, maka mereka akan berusaha untuk menghalangi lawan mereka yang juga berusaha untuk melewati garis batas yang sudah ditentukan sebagai garis batas bebas. Bagi anggota grup yang mendapatkan tugas untuk menjaga garis batas vertikal (umumnya hanya satu orang), maka orang ini mempunyai akses untuk keseluruhan garis batas vertikal yang terletak di tengah lapangan. Permainan ini sangat mengasyikkan sekaligus sangat sulit karena setiap orang harus selalu berjaga dan berlari secepat mungkin jika diperlukan untuk meraih kemenangan.

Cara dan Aturan Bermain hadang/ tak tak galah
Cara Bermain Hadang/tak tak galah


Cara melakukan permainan HADANG ini yaitu:
1. Membuat garis-garis penjagaan dengan kapur seperti lapangan bulu tangkis, bedanya tidak ada               garis yang rangkap.
2. Membagi pemain menjadi dua tim, satu tim terdiri dari 3 – 5 atau dapat disesuaikan dengan                     jumlah peserta. Satu tim akan menjadi tim “jaga” dan tim yang lain akan menjadi tim “lawan”.
3. Anggota tim yang mendapat giliran “jaga” akan menjaga lapangan , caranya yang dijaga adalah          garis horisontal dan ada juga yang menjaga garis batas vertikal. Untuk penjaga garis horisontal               tugasnya adalah berusaha untuk menghalangi lawan mereka yang juga berusaha untuk melewati            garis batas yang sudah ditentukan sebagai garis batas bebas. Bagi seorang yang mendapatkan tugas       untuk menjaga garis batas vertikal maka tugasnya adalah menjaga keseluruhan garis batas vertikal           yang terletak di tengah lapangan.
4. Sedangkan tim yang menjadi “lawan”, harus berusaha melewati baris ke baris hingga baris                     paling belakang, kemudian kembali lagi melewati penjagaan lawan hingga sampai ke baris awal.


Aturan Cara Bermain HADANG
Berikut ini peraturan-peraturan yang berlaku dalam permainan Hadang adalah sebagai berikut:

1   Pemain terbagi menjadi 2 kelompok yang terdiri dari 3 – 5 orang (disesuaikan).
2. Jika 1 kelompok terdiri dari 5 orang maka lapangan dibagi menjadi 4 kotak persegi panjang, yang berukuran 5m x 3m (disesuaikan).
·3.  Tim “jaga” bertugas menjaga agar tim “lawan” tidak bisa menuju garis finish.
4.Tim “lawan” berusaha menuju garis finish dengan syarat tidak tersentuh tim “jaga” dan dapat memasuki garis finish dengan syarat tidak ada anggota tim “lawan” yang masih berada di wilayah start.
5.Tim “lawan” dikatakan menang apabila salah satu anggota tim berhasil kembali ke garis start dengan selamat (tidak tersentuh tim lawan).
6. Tim “lawan” dikatakan kalah jika salah satu anggotanya tersentuh oleh tim “jaga” atau keluar melewati garis batas lapangan yang telah ditentukan. Jika hal tersebut terjadi, maka akan dilakukan pergantian posisi yaitu tim “lawan” akan menjadi tim “jaga”, dan sebaliknya.


Manfaat Bermain Hadang

Setelah kita mempelajari cara bermain hadang maka kita akan mengerti bahwa permainan ini sangat menarik, menyenangkan sekaligus sangat sulit karena setiap orang harus selalu berjaga dan berlari secepat mungkin jika diperlukan untuk meraih kemenangan. Nilai Spiritual dalam Permainan hadang selain kebersamaan, kita juga bisa belajar kerja sama yang kompak antara satu penjaga dan penjaga lain agar lawan tidak lepas kendali untuk keluar dari kungkungan kita. Di pihak lain bagi penerobos yang piawai, disana masih banyak pintu-pintu yang terbuka apabila satu celah dirasa telah tertutup. Jangan putus asa apabila dirasa ada pintu satu yang dijaga, karena masih ada pintu lain yang siap menerima kedatangan kita, yang penting kita mau mau berusaha dan bertindak segera. Ingatlah bahwa peluang selalu ada, walaupun terkadang nilai probabilitasnya sedikit.

Penguatan Program Mandatori optimalisasi Tugas Dan Fungsi APKS PGRI, LKBH PGRI serta pengelolaan Keanggotaan dan Keuangan melalui PGRI, SLCC PGRI dan DKGI Organisasi

Penguatan Program Mandatori optimalisasi Tugas Dan Fungsi APKS PGRI, LKBH PGRI serta pengelolaan Keanggotaan dan Keuangan melalui PGRI, SLCC...